Untuk Kamu yang tidak berani Ku sebutkan namanya

Sabtu, 08 Maret 2014




Aku sangat bahagia untukmu

Melihat kesuksesanmu di sebrang sana

Tetaplah disitu, agar aku bisa melihat lebih lama lagi, walau hanya dari kejauhan

Jika kau melihatku dari sebrang sana, maka jentikkan jemari sama seperti saat kita bertemu pertama kali saat hujan awal tahun

Tetap be down to earth yaa, karna kamu hadiah yang menarik apa adanya kamu.


Lelaki berkemeja abu-abu

Lelaki berkemeja abu-abu


Waktu menunjukkan pukul 07.55. Nina terus menatap jam tangannya sesekali berguman menunggu temannya, Sinta untuk masuk kelas. 5 menit lagi kelas akan dimulai, sedangkan Sinta sama sekali tidak terlihat. Padahal tugas yang akan Nina presentasikan ada di Sinta. Nina pun mengeluarkan Handphonenya dan menelpon Sinta.

“Sinta, kamu dimana ??” Sambar Nina

“masih dijalan, na. Bentar lagi nyampe kok” balas Sinta dari sebrang telpon.

“cepetan Sinta, kita pagi ini presentasi”

“iyah iyah”

Sinta tergopoh-gopoh menghampiri Nina, waktu sudah menunjukkan pukul 08.10. kelas sudah dimulai sepuluh 10 menit yang lalu. Namun Nina masih diluar kelas menunggu Sinta. Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya Sinta dan Nina masuk ke kelas. Amat sangat tumben kali ini Nina dan Sinta di ijinkan masuk kelas oleh dosen killer satu ini, Ibu Ani sapaan akrabnya. Biasanya, terlambat 5 menit saja, Ibu ani akan mengusir mahasiswa yang terlambat. 


***

09.30 Presentasi berjalan lancar walaupun Nina dan Sinta sempat datang terlambat. Kelas selanjutnya pada jam 1 siang. Demi mengisi kekosongan waktu, Nina dan Sinta memutuskan untuk kekantin kampus, terlebih tenaga mereka sudah terkuras karna presentasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan menjebak dari teman-teman dikelas. Mahasiswa jaman sekarang kebanyakan nyinyir. Datang kekampus hanya pamer gadget dan kendaraan. Saat suasana presentasi atau diskusi, bukan jawaban yang didapat, hanya sekedar ‘aku benar, kamu salah’. Bertanya bukan karna tidak tahu, karna yang sebenarnya yang bertanya itu sudah tahu jawabannya dan hanya ingin membuat yang ditanya ini terlihat bodoh ketika ia tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. 

“Nin, liat deh cowok di arah jam 11” Perintah Sinta pada Nina yang duduk disampingnya.

Nina pun mengarahkan pandangan dengan perlahan sesuai perintah Sinta

“memangnya kenapa ??” balas Nina dengan suara lebih pelan agar tidak kentara bahwa ia  dan Sinta sedang membicarakan lelaki berkemeja abu-abu itu.

“dari tadi aku perhatiin dia ngeliatin kamu terus, lagian, sekilas kok wajahnya mirip dengan wajahmu, siapa tau kalian jodoh. Hahaha ” Cengir Sinta

hush !! apaan sih kamu”

Nina kembali mengarahkan pandangan sembunyi-sembunyi pada lelaki berkemeja abu-abu itu, lelaki itu tidaklah tampan, tatanan rambutnya mendekati hairstyle emo, tubuhnya pun dapat dikatakan kurus. Lelaki itu terlihat sibuk dengan sketch book dan gambar sketsanya, sepertinya ia jago menggambar. Namun yang lebih menarik perhatian Nina ialah sepatu yang dipakai lelaki itu, lelaki itu memakai sepatu converse. Tiba-tiba Nina larut dalam lamunan. Ia rindu dengan sepatu conversenya dulu. Sudah 2 tahun dia menyimpan dalam sepatu sepanjang masa itu. Karna 2 tahun kebelakang, Ia sibuk menjadi boneka oleh kekasihnya, Heri. Lebih tepatnya kini mantan kekasih. Heri tidak suka jika Nina berpenampilan sporty,Heri selalu menuntut Nina untuk berpenampilan feminim, padahal Nina adalah tipikal orang yang santai dan merasa lebih nyaman berpenampilan sporty,  Heri  akan marah jika lita mencoba kembali memakai sepatu converse tersebut. 

Hujan tiba-tiba turun. Kota ini memang aneh, sudah tidak jarang, saat cuaca terik, tiba-tiba saja dalam hitungan menit akan turun hujan lebat. Begitu juga sebaliknya, saat cuaca diperkirakan akan hujan seharian, yang terjadi justru dalam sekejap akan menjadi amat sangat terik. Nina telah menghabiskan makanan yang ia pesan, sedang Sinta, masih menikmati perlahan makanan yang ia santap. Sejenak Nina terdiam, ia mencuri pandang pada lelaki bersepatu converse itu. Ada yang menarik perhatiannya, tentunya selain sepatu converse itu. Namun tiba-tiba mata lelaki tersebut mendapati Nina sedang memperhatikannya. Lelaki tersebut membalas dengan senyum sok cool. Nina yang salah tingkah karna ketahuan sedang memperhatikannya pun segera mengalihkan pandangan dan mengambil smartphonenya yang ada didalam tas, berpura-pura sibuk dengan handphonenya. 

Nina tiba-tiba mendapatkan inspirasi, terlebih saat hujan. Karna Nina menyukai hujan, hingga apapun yang terjadi saat hujan, ia akan menjadikan inspirasi dalam menulis. Nina sendiri menyukai fiksi. Baginya fiksi penyeimbang otaknya. Karna sejujurnya otaknya amat sangat lelah dengan bacaan politik, ekonomi atau hokum, hingga agar ia tidak gila ia menyeimbangkan otaknya dengan bacaan dan tulisan fiksi.

Nina terus menatap layar handphonenya yang ia pakai sebagai pengalih perhatian dari lelaki tersebut, segera ia membuka menu note, sudah banyak note puisi, artikel atau tulisan-tulisan fiksi. Nina pun memilih note baru dengan judul  “Lelaki berkemeja abu-abu”

Lelaki berkemeja abu-abu
Hei tuan berkemeja abu-abu, apa yang kau gambar di tengah hujan seperti ini 
Hei tuan , apa yang sedang kau lakukan. Kau nampak sendiri ditengah  dikeramaian. 
Hei tuan, tatapanmu begitu tajam, namun senyummu sangat lah ramah
Hei tuan, kau sedang menunggu siapa ? Mengapa kau hanya sendiri ditempat seperti ini ? Apa kau menunggu kekasihmu ? Lalu dimana kekasihmu yang kau tunggu itu ? Apa ia akan datang ?? 
Hei tuan, sepatu mu menarik perhatianku. Dulu aku juga pernah memiliki sepatu yang sama dengan yang kau pakai. Yah dulu. 
Hei tuan, sepatu mu tidak sudah tidak cocok dengan umur mu. Tapi itulah yang menarik perhatianku 
Hei tuan, apa yang kau lakukan sembari menunggu kekasihmu datang ?
Hei tuan, apa kau sedang menggambar untuk membunuh waktu menunggu kekasihmu yang tak kunjung datang ? 
Hei tuan, jika kau sedang menunggu kekasihmu, mengapa beberapa kali aku menangkap kau melihat ke arah ku 
Hei tuan, Hujan sudah reda dan kekasih mu tak kunjung datang. 
Hei tuan, hujan sudah reda, aku berhenti memerhatikanmu, aku harus kembali kekehidupanku
Hei tuan, aku harus kembali ke aktivitasku, hujan selalu sukses membuat aktivitasku sementara berhenti dan kali ini hujan sukses membuatku memperhatikanmu dari kejauhan 
Hei tuan, sampai berjumpa lagi .. 
*hujan di akhir bulan oktober tahun ini*


Hujan mulai reda, Nina dan Sinta memutuskan untuk tetap berdiam di kantin, menunggu hujan benar-benar reda. Sesekali Nina dan Sinta tertawa lepas menceritakan hal-hal lucu disekitarnya. Namun setelah lelah tertawa, mereka masing-masing terdiam. Sinta kemudian sibuk dengan gadgetnya dan Nina mulai melamun. Hujan selalu berhasil  membawa Nina kekeadaan  sendu. Hujan dimanapun ia datang selalu membawa pesan sendu rindu. Seakan hujan ialah deklarasi reuni rindu-rindu. Dan hujan mulai reda, Nina dan Sinta bersiap meninggalkan kantin. Namun tiba-tiba Nina terhenyak dari lamunan. Ia terkejut karna ada seorang laki laki yang menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Nina. 

“Hey, apa yang sedang kau lamunkan” kata lelaki asing tersebut

Nina terkejut mengetahui lelaki berkemeja abu-abu itu tiba-tiba saja sudah ada didepannya. 

“Aku sedang menunggu hadiah dari Tuhan” balas Nina dengan senyum


Harus kah Aku Golput lagi ??

Rabu, 27 November 2013

“katanya mahasiswa, tapi kok apatis sama lingkungan sekitar”

“katanya agent of change, tapi kok gak peka sama lingkungan sekitar”

“katanya mahasiswa, tapi kok apolitis”

“katanya mahasiswa, tapi kok golput”



Negri ini sudah kebanyakan  mahasiswa nyinyir. Kuliah hanya untuk pamer gadget dan mobil orang tua. Bertemu dengan mahasiswa yang idealis kini sudah menjadi hal yang langka. Jangankan yang idealis, yang peka/peduli terhadap lingkungan sekitar saja sudah amat sangat jarang.
Kenapa mahasiswa sekarang banyak yang apolitis?? Apa yang salah, apa ini efek globalisasi yang tanpa saringan hingga pola pikir manusia menjadi individualis dan matrealistis ?? 

Tapi apa yang salah dengan apolitis ?? itu hak masing-masing orang. 

Namun apolitis di negri ini sudah amat sangat keterlaluan, memang sebuah hak masing-masing orang untuk apolitis, namun sangat tidak etis jika subjek yang apolitis itu berbicara menghakimi bahkan memaki orang-orang yang peduli pada politik, orang-orang yang ingin melakukan perubahan. Tidak suka berpolitik namun bernyinyir ria dari luar. Bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Generasi apolitis hanya pandai mengkritisi dari luar namun sama sekali tidak tertarik bergabung didalamnya untuk melakukan perubahan. Di negri ini, pendidikan politik sudah berhasil membuat generasi muda menjadi apolitis dengan sajian sinetron politik setiap hari yang tidak ada habis-habisnya. Hingga menghasilkan strereotipe politik itu kotor,hanya mengejar kekuasaan/jabatan,Penuh konspirasi, nepotisme, penyelewengan. Politik bukan untuk kepentingan public namun kepentingan beberapa pihak. Dalam politik juga Teman bisa jadi lawan, lawan bisa jadi sahabat. Itulah gambaran singkat mengenai dunia politik, khususnya di Indonesia. 

Bicara politik, dunia kampus pun tidak lepas dari politik. Universitas Mulawarman kini memasuki masa Pemilihan presiden BEM lagi. Tahun ini ada 3 kandidat yang mencalonkan diri. Terlepas dari mana asal mereka, visi misi apa yang akan mereka kampanyekan, tahun ini, apakah mungkin jumlah angka golput akan meningkat lagi ?? angka golput yang tinggi pada sebuah pemira di kampus pun sudah dapat menunjukkan banyaknya generasi apolitis yang lahir. Entah dengan alasan kirisis kepercayaan pada politik, proses politik yang asing, menyerah pada masalah-masalah politik dinegri ini  atau memang mereka yang tidak mau peka bahkan peduli pada lingkungan sekitar.
Namun Golput atau tidak pada pemira unmul tahun ini adalah hak masing-masing dari setiap individu. Namun perlu diketahui, janganlah mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Janganmengumpat dan  mengeluarkan sumpah serapah di social media jika menemui birokrasi yang berbelit, jalanan dan fasilitas kampus  yang rusak, penaataan ruang public kampus yang amburadul, dan biaya kuliah yang makin tinggi. Itu adalah konsekuensi anda-anda yang apolitis. 

Jangan hanya pandai mengkritisi dari luar. Mari bergabung didalam dengan menciptakan perubahan. Setidaknya gunakan hak pilih dalam pemira dan lebih peka pada lingkungan sekitar. Itu pun sudah merupakan sebuah partisipasi. Yah, berpartisipasi dalam gerakan menuju perubahan ke  arah yang lebih baik. Berpolitik dengan jujur, bersih, idealis, dan dengan nurani memang susah. Namun bukannya kita ini adalah agent of change ?? ada sebuah harapan di pundak kita. Biarkanlah generasi yang ‘tua’ itu membuat kekacauan di negri ini. Namun saat generasi kita yang menjabat, kita harus belajar dan memperbaikinya. Kalau bukan kita, lalu siapa ?? anak muda harus bisa melakukan perubahan. Sekali lagi, lebih baik kita menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.


Selamat memlih wahai harapan bangsa 
 


Tuan bersepatu converse

Rabu, 13 November 2013

Hei tuan bersepatu converse, apa yang kau gambar di tengah hujan seperti ini

Hei tuan , apa yang sedang kau lakukan.
Kau nampak sendiri ditengah  dikeramaian.

Hei tuan, tatapanmu begitu tajam, namun senyummu sangat lah ramah

Hei tuan, kau sedang menunggu siapa ?
Mengapa kau hanya sendiri ditempat seperti ini ?
Apa kau menunggu kekasihmu ?
Lalu dimana kekasihmu yang kau tunggu itu ?
Apa ia akan datang ??

Hei tuan, sepatu mu menarik perhatianku. Dulu aku juga pernah memiliki sepatu yang sama dengan yang kau pakai.
Yah dulu.

Hei tuan, sepatu mu tidak sudah tidak cocok dengan umur mu.
Tapi itulah yang menarik perhatianku

Hei tuan, apa yang kau lakukan sembari menunggu kekasihmu datang ?

Hei tuan, apa kau sedang menggambar untuk membunuh waktu menunggu kekasihmu yang tak kunjung datang ?

Hei tuan, jika kau sedang menunggu kekasihmu, mengapa beberapa kali aku menangkap kau melihat ke arah ku

Hei tuan, Hujan sudah reda dan kekasih mu sudah datang.

Hei tuan, hujan sudah reda, aku berhenti memerhatikanmu. Kau harus pergi dengan kekasihmu dan aku harus kembali kekehidupanku

Hei tuan, kau milikku hanya pada saat hujan.

Hei tuan,bye bye

Hei tuan, sampai berjumpa lagi di hujan berikutnya
Published with Blogger-droid v2.0.10

Takdir

Selasa, 29 Oktober 2013


Kau percaya takdir ??
Bukankah semua yang terjadi didunia ini tidak ada yang terjadi karna kebetulan. Bahkan daun yang gugur dari rantingnya pun merupakan takdir. Percaya takdir berarti percaya tidak ada yang terjadi karna kebetulan. Setidaknya itulah kepercayaanku. Begitu juga pertemuanku denganmu.Pertemuan yang aku anggap takdir namun hanya kebetulan bagimu.

Kota ini, kini memasuki musim hujan. Dan angin kala hujan itu berhasil mengingatkan tentang rindu yang belum.usai.

Man proposes - God Disposes . Setidaknya ini satu lagi kepercayaanku.

Seorang anak perempuan berencana ingin bertemu dengan pujaan hatinya yang ia kagumi secara diam-diam. Ini sudah ke-2 kalinya rencana itu gagal. Entah ini takdir atau ujian dari Tuhan. Namun anak perempuan itu terus berharap, percaya bahwa nanti takdir akan berpihak kepadanya. Terus dan terus  berharap bahwa takdir akan berpihak padanya.

Namun apa jadinya jika keinginan anak perempuan itu tidak sesuai dengan harapannya ?? Yah , memang menyebalkan saat apa yang selama ini kau yakini ternyata hanya omong kosong.


*Dan aku menulis ini sebagai aku, bahwa meskipun takdir jarang berpihak pada anak perempuan itu, aku masih percaya dan yakin tentang takdir itu. Karna suatu hari nanti, takdir itu akan bosan untuk mengacuhkan anak perempuan itu.


30 Okt '13 saat setelah hujan reda dikota ini .. 
Published with Blogger-droid v2.0.10

Sekolah :: Haus Ilmu, Haus pertemanan

Senin, 21 Oktober 2013

"Kuliah yang bener, Biar nanti enak dapat kerja"

"Buat apa kuliah tinggi kalo.ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga ngurus anak dan suami dirumah"

"Buat apa kamu kuliah tinggi-tinggi kalo nanti tidak berkerja diperusahaan dan berjualan dengan berwirausaha"

Bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi tentu hal yang amat sangat aku syukuri, Karna diluar sana ada yang memiliki semangat namun keberuntungan belum menghampiri, ada juga yang sudah beruntung namun kadang malah menyia-nyiakan.kesempatan bisa mengeyam.pendidikan di perguruan tinggi. Memang belajar bisa dimana saja, Bahkan pelajaran kehidupan tidak ada di bangku kuliah. Namun sekali lagi, Bisa mengeyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi itu hal yang amat sangat disyukuri.

Menjadi sarjana jangan hanya sekedar yang penting lulus. Karna 'kita' berbeda, 'kita' harapan dan agent of change.

Perkara saat seorang sarjana memutuskan untuk berwirausaha setelah lulus, hal yang sering dianggap remeh temeh bagi sebagian masyarakat. Begitu pun dengan aku, saat aku berkata pada orang tuaku ingin berwirausaha setelah lulus, tanggapan mereka tentu menolak. Yah, Sukses di masyarakat identik dengan materi, fasilitas, karier dan jabatan. Wirausaha, yang kasarnya dapat dikatakan dengan berjualan dianggap alternaltif pekerjaan terakhir, wirausaha dianggap pekerjaan dengan latar belakang pendidikan low.

Namun yang sebenarnya ialah berwirausaha itu setidaknya lebih terhormat ketimbang kamu memakan duit yang bukan hak mu (Korupsi). Bukan karna aku anak dari seorang pedagang lantas aku mengagungkan-agungkan wirausaha, untuk hal itu aku punya kebanggaan tersendiri. Bahkan dengan pekerjaan yang dianggap remeh temeh itulah yang mengantarkanku bisa kuliah, bisa mengetik tulisan di gadget ini dan masi bisa makan enak sampai sekarang.

Aku punya kekaguman tersendiri pada para 'pedagang'. Entah dari kelas high hingga kelas low. Aku salut. Bahkan dalam ilmu ekonomi pun pedagang dikatakan sebagai penggerak perekonomian daerah/negara.

Namun bukan berarti aku mengatakan menjadi karyawan/pegawai itu tidak baik. Menjadi karywan atau wiraswasta sama-sama baik. Tidak ada yang lebih baik. Karna keduanya seimbang. Baik atau tidak itu soal pilihan diri masing-masing.

Aku sendiri, Sekarang ini sedang menempuh studi komunikasi, namun aku juga punya minat lebih di psikologi dan ekonomi. Jika pun ada kesempatan, aku ingin mencoba. Insya Allah :)). Dan apapun pendidikan yang aku dapat, kelak adalah sebuah kebutuhan yanga amat sangat penting entah akhirnya aku berkarir, berwirausaha atau menjadi ibu rumah tangga, pendidikan itu akan menjadi kebutuhan anakku kelak, karna aku lah guru pertama dan utama untuk anakku. setidaknya, rasa haus intelektual dan haus pertemanan dan pertemuan dengan orang-orang hebat sudah terobati. Karna Sekolah bukan tentang ajang gengsi, tapi tentang haus ilmu.

"Sekolah itu bukan ajang
penunjukkan eksistensi diri, tapi
merasa diri lebih dari yang lain
adalah kebutuhan. Dan sekolah
adalah salah satu jalan untuk bisa
merasa lebih baik walaupun
mungkin pada kenyataannya tidak
selalu seperti itu,, tapi setidaknya
merasa lebih baik dan itu akan
membangun rasa percaya diri."
@falla_adinda


"Sekolah adalah dahaga
intelektual, bukan tentang
penunjukkan kecerdasan" -
@junohadinoto
Published with Blogger-droid v2.0.10