Tampilkan postingan dengan label Opini Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Ku. Tampilkan semua postingan

Re-write : Sekolah, Haus Ilmu, Haus Pertemanan

Rabu, 13 April 2016



Bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi tentu hal yang amat sangat aku 
syukuri, Karna diluar sana ada yang memiliki semangat namun keberuntungan 
belum menghampiri,  ada juga yang sudah beruntung namun kadang malah 
menyianyiakan kesempatan bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. 

Memang belajar bisa dimana saja, Bahkan pelajaran kehidupan tidak ada 
di bangku kuliah. Namun sekali lagi, Bisa mengeyam pendidikan sampai ke 
perguruan tinggi itu hal yang amat sangat disyukuri.

Menjadi sarjana jangan hanya sekedar yang penting lulus. Karna 'kita' berbeda, 
'kita' harapan dan  agent of change. Perkara saat seorang sarjana memutuskan untuk 
berwirausaha setelah lulus,hal yang sering dianggap remeh temeh bagi sebagian 
masyarakat. Begitu pun dengan aku, saat aku  berkata pada orang tuaku ingin 
berwirausaha setelah lulus, tanggapan merekatentu menolak.  

Yah, Sukses di masyarakat identik dengan materi, fasilitas, karier dan jabatan. 
Wirausaha, yang  kasarnya dapat dikatakan dengan berjualan dianggap alternaltif
pekerjaan terakhir, wirausaha  dianggap pekerjaan dengan latar belakang 
pendidikan low.

Namun yang sebenarnya ialah berwirausaha itu setidaknya lebih terhormat 
ketimbang kamu memakan duit yang bukan hak mu (Korupsi). 
Bukan karna aku anakdari seorang pedagang lantas  aku mengagung-agungkan wirausaha, untuk hal itu aku punya kebanggaan tersendiri. Bahkan dengan pekerjaan yang dianggap remeh temeh itulah yang 
mengantarkanku bisa kuliah, mengantongi ijazah perguruan tinggi & 
bisa mengetik tulisan di gadget ini.

Aku punya kekaguman tersendiri pada para 'pedagang'Entah dari kelas 
high hingga kelas low. Aku salut. Bahkan dalam ilmu ekonomi pun pedagang 
dikatakan sebagai penggerak perekonomian daerah/negara. Namun bukan 
berarti aku mengatakan menjadi karyawan/pegawai itu tidak baik.  

Menjadi karywan atau wiraswasta sama-sama baik. Tidak ada yang lebih baik. 
Karna keduanya seimbang. Baik atau tidak itu soal pilihan diri masing-masing.

Aku sendiri adalah sarjana jurusan komunikasi. Namun aku tidak membatasi diriku, 
aku punya  banyak minat. Aku tidak membatasi diriku bahwa aku harus berkarier 
linear sesuai dengan background pendidikanku. Apapun yang aku minat aku 
coba melakukannya.  Tidak masalah jika tidak linear dengan background 
pendidikan ku. Aku pikir itu tandanya aku belajar hal baru.   Dan apapun 
pendidikan yangaku dapat, kelak adalah sebuah kebutuhan yanga amat sangat 
penting entah akhirnya aku berkarir, berwirausaha atau menjadi ibu rumah tangga,  
pendidikan itu akan menjadi kebutuhan anakku kelak, karna aku lah guru 
pertama dan utama untuk  anakku. setidaknya, rasa haus intelektual dan haus 
pertemanan dan pertemuan dengan  orang-orang hebat sudah terobati. 
Karna Sekolah bukan tentang ajang gengsi, tapi tentang haus ilmu.

Kamu hanyalah keluarga kecil yang mencoba memperbaiki hidup.  
Berikhtiar untuk hidup lebih baik. Bukan kah Tuhan tidak akan mengubah 
nasib suatukaum jika kaumnya tidak berusaha ? Hal itulah yang kami ilhami. 

Terinspirasi juga dengan kutipan pada novel Laskar pelangi 
“Tapi yang pasti pengalaman selalu menunjukkan bahwa hidup dengan usaha  adalah mata
yang ditutupuntuk memilih buah-buahan dalam 
keranjang. Buah apapun yang didapat tetap mendapat buah. 
Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup 
untukmencari kucing  hitam di dalam kamar gelap 
dan kucingnya tidak ada.” 


Terus berusaha, berjuang untuk mencapai cita-cita juga agar 
memiliki hidup yang lebih baik. Karna support itu juga yang selalu menjadi amunisi 
semangat disaat krisis semangat melanda. 


Menurutku kehausan untuk menuntut ilmu tidak membatasi siapapun.  
Mungkin mereka yang dari keluarga berkecukupan dengan fasilitas lengkap 
memiliki kesempatan lebih besar untuk mengeyam pendidikan di sekolah 
ternama. Namun setidaknya, pengajaran, perjuangan & nasehat dari orang tua untuk 
memperbaiki nasib, untuk masa depan  yang lebih baik membuktikan, ditengah 
kesederhanaan,untuk tetap mengutamkan pendidikan.

Bagi mereka meninggalkan warisan kepada anak berupa harta berlimpah tidaklah cukup.  
Mereka percaya dengan ilmu yang dimiliki itulah yang akan 
meninggikan derajat mereka di surga kelak. 


Menimba ilmu juga tidak harus di sekolah. 
Namun bukan berarti itu alasan untuk menjalani hidup apa adanya tanpa mengusahakan 
& berjuang  untuk mengeyam pendidikan. 


"Allah tidak menghukum orang yang tidak tahu 
 tapi Allah tidak suka dengan orang tidak mau tahu” . 


Kita dapat menimba ilmu dari manapun dan pastikan kelak akan bermanfaat,  
tidak hanya untuk diri sendiri namun bagi orang sekitar dan banyak orang.
Jika belum mendapatkan kesempatan untuk mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, 
tetaplah belajar dari mana pun, dari banyak pintu ilmu. Menuntut ilmu adalah jalan untuk 
mendapatkan keridhoan-Nya. Ilmu adalah pintu untuk dapat menebar manfaat untuk sesama. 


"Sekolah adalah dahaga intektual, bukan tentang penunjukkan kecerdasa"- 
@junohadinoto 



Tulisan seriusku (Part 4)

Sabtu, 11 Mei 2013

Ini sebenarnya tugas dari dosen jurnalistik sih, Tugas membuat feature. tulisan ini aku ketik jam 12 malam loh, padahal deadlinenya besok paginya *the power of kepepet*. maklum, karna aku tipe night person, yang ide-ide di otak muncul di saat semua orang sudah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
*happy reading :)))*



Jangan anggap kami anak tiri
Aku telah berada di pelabuhan kariangau, Balikpapan tepat pukul 21.00 setelah menempuh perjalanan dari Bontang menuju Balikpapan. Tidak banyak yang berubah setelah 3 tahun yang lalu aku mendatangi tempat ini. Sama seperti 3 tahun yang lalu, pelabuhan ini masih menjadi favorit para supir truk, supir bus, dan supir-supir taksi gelap  untuk menyebrang ke Panajam ketimbang melalui jalan darat yang biasa disebut ‘jalan tembus sepaku’. Sama seperti 3 tahun lalu, pelabuhan ini selalu mengalami antrian yang cukup panjang jika sedang musim libur sekolah dan hari besar keagamaan. Antrian yang cukup panjang inilah yang sering di manfaatkan para sopir untuk beristirahat sembari menunggu antrian masuk kapal ferry. kebanyakan supir lebih memilih mengantri dikarenakan faktor keamanan. Karna di jalan tembus sepaku selain kondisi jalanan banyak yang berlubang, jalan tembus ini rawan perampokan. Inilah alasan mengapa para sopir lebih memilih mengantri berjam-jam, hingga lebih 10 jam ketimbang melewati jalan tembus sepaku.
Kurang lebih 5 jam aku menunggu giliran untuk masuk kapal ferry, hingga akhirnya sekitar pukul 00.00 mobil yang aku tumpangi masuk kapal ferry dan melaju menyebrang menuju Panajam. Lanjut dari panajam menuju Babulu, Kuaro, Batu Kajang, Muara Komam. Asing dengan nama daerah-daerah diatas ? yah, inilah daerah pinggiran Kalimantan Timur. Daerah terluar Kalimantan Timur yang jarang di ekspos. Daerah-daerah ini sangatlah unik. Karena berada di Jalan Trans Kalimantan Timur-Kalimantan Selatan. Daerahnya masih asli, penduduknya masih jarang. Jauh dari kata megapolitan. Kehidupan masyarakatnya pun masih sederhana. Bahkan masih ada masyarakat yang mata pencahariannya berburu di hutan. Sepanjang jalan Trans Kaltim-Kalsel, sesekali ada warung-warung  yang menyediakan makanan, minuman, tempat beristirahat dan toilet.
Terus berjalan ke selatan hingga mencapai perbatasan kaltim-kalsel yang biasa disebut “gunung halat”. Aku sangat takjub dengan apa yang aku lihat. Begitu indahnhya rancangan Tuhan membuat pemandangan yang benar-benar membuatku takjub. Hijau dan Lebatnya pohon-pohon yang tumbuh menjulang tinggi, Asap putih yang keluar bekas embun subuh, deretan gunung tinggi seakan jaraknya hanya 5cm dengan langit, kokohnya bongkahan batu kapur, hitamnya batu bara yang terpampang jelas tanpa harus digali, ditambah silau-silau kuning matahari pagi yang menyelinap di antara dedaunan yang lebat. Sebuah pemandangan yang membuat siapapun berdecak kagum dan memuji Tuhannya.
Namun, di balik keindahan tersebut, daerah-daerah terluar kaltim seperti Babulu, Kuaro, Batu Kajang, Muara Komam seakan dianggap anak tiri. Hal ini dikarenakan luasnya daerah Kaltim, jauhnya jarak antara daerah-daerah tersebut dengan Ibukota dan pusat pemerintahan. Tidak heran jika dari berbagai macam segi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut akan tertinggal. Misalnya saja dari segi pendidikan dan teknologi. Terbukti dengan sedikitnya atau bahkan tidak ada mahasiswa asal daerah-daerah tersebut yang melanjutkan studi perguruan tinggi di Ibukota Kaltim. Kalau pun ada, banyak dari mereka yang ‘mendua’. Yaitu melanjutkan studi di kalsel. Ada apa dengan kaltim ? Padahal dilihat dari APBD dan kekayaan daerah, Kaltim lebih menjanjikan ketimbang kalsel. Apa kalsel lebih mengapresiasi ? Apa karna Kaltim terlalu banyak ‘anak’ hingga melupakan beberapa ‘anak’ mereka ini ?
Selain masalah pendidikan, masalah sarana transportasi seperti jalanan juga sangat memprihatinkan. Banyak jalanan berlubang sepanjang jalan trans kaltim-kalsel terutama yang masih dalam kawasan kaltim. Dimana peran pemerintah? Padahal kaltim itu sangat kaya, tapi kenapa untuk memperbaiki jalan saja prosesnya sangat lama. Ketimbang perbaikan jalan yang ada di Ibukota, bahkan jalan yang masih dapat dikatakan bagus pun diperbaiki lagi oleh pemerintah. Alhasil, geram dengan lambannya pemerintah menanggapi permasalahan tersebut, masyarakat secara swadaya memperbaiki jalan tersebut dengan peralatan seadanya. Seperti menimbun jalan berlubang dengan tanah liat atau memberi rambu seadanya kepada orang-orang yang melintas untuk lebih berhati-hati saat melintas di jalan berlubang tersebut. Sebagai imbalannya, orang-orang ini meminta sumbangan seiklhlasnya kepada setiap pengendara yang lewat. Hingga ada celetukan beberapa sopir yang mengatakan tanpa harus melihat batas perbatasan pun kita sudah tau sedang ada wilayah kaltim atau kalsel. Jika jalanan banyak berlubang dan rusak tandanya anda masih berada di daerah kaltim, sedang jika perjalanan mulus tanpa jalan berlubang tandanya anda sudah masuk daerah kalsel.
Pemerataan jatah BBM pun disini tidak merata, terbukti dengan panjangnya antrian kendaraan di SPBU sepanjang jalan trans kalimantan ini. Pemandangan seperti sudah tidak jarang lagi bagi masyarakat sekitar. Mereka bahkan sudah biasa mengalami kenaikan harga BBM 3x lipat dikalangan pengecer. Berbeda dengan masyarakat kota yang jika pasokan BBM sedikit saja datang terlambat akan menimbulkan banyak komplain dan sumpah serapah di jejaring sosial.
Pejabat yang berkunjung pun dapat di hitung jari. Seperti ketua DPRD Kaltim, HM Mukmin Faisyal HP yang datang meninjau jalan Trans kalimantan pada oktober 2012 lalu. Bahkan jika masyarakat disana ditanya apakah mereka tau seperti apa ibukota provinsinya, seperti apa wajah gubernur mereka, aku yakin tidak banyak yang tau.
Daerah-daerah tersebut seakan terlupakan. Seakan di anggap anak tiri. Hanya sebagai pajangan. Jika di analogikan dengan pulau-pulau terluar di perbatasan Indonesia-Malaysia, tidak heran masyarakat yang ada di pinggiran ini memilih untuk ‘Mendua’. Mereka jelas akan lebih memilih siapa yang lebih ‘menganggap’ mereka ada.
Seandainya para pemimpin/petinggi daerah lebih peduli, lebih meluangkan waktu untuk mendengarkan aspirasi masyarakat pinggiran, dan merealisasikan keinginan-keinginan sederhana dari mereka. Bukan tidak mungkin daerah-daerah tersebut tidak akan menjadi daerah tertinggal hingga ketimpangan sosial dapat diminimalisir. Bukan tidak mungkin juga daerah-daerah inilah yang nanti menjadi pundi-pundi pemasukan daerah karena daerah-daerahnya yang masih asli dan belum banyak di eksplor. Mungkin saja daerah-daerah tersebut sekarang hanyalah sebongkah batu yang jika nanti kita asah akan menjadi berlian yang sangat berharga. Siapa yang tau ? yang ku tau kaltim memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Untuk itu, jangan lupakan mereka.

Tulisan Serius ku (part 2)

Sabtu, 16 Maret 2013

Lagi-lagi aku nulis serius hanya karna dipaksa pimpinan redaksi di UKM Jurnalistik .. Dipaksa untuk meramaikan tulisan yang ada di Buku 'Coretan Setengah Abad' dalam rangka ultah kampus ku yang ke-50 , inilah tulisan serius ku yang gak seberapaa *happy reading*


Menuju birokrasi kampus yang efisien
Jika berbicara masalah pendidikan yang tergambar sebuah sistem yang kaku dengan kerumitan administrasi yang berbelit. Mengeyam pendidikan di perguruan tinggi atau menjadi mahasiswa tentunya tidak asing dengan urusan administrasi/birokrasi kampus. Misal ; pengurusan portal akademik, beasiswa, proposal dana atau skripsi.
Menurut wikipedia Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy) diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida dimana lebih banyak orang yang berada di tingkat bawah daripada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administrasi maupun militer.
Lebih spesifik saya akan membahas administrasi/birokrasi yang berbelit di Universitas Mulawarman. Mahasiswa unmul tentunya sudah tidak asing lagi dengan hal-hal berhubungan dengan administrasi. Contoh kecilnya pada sistem online dalam pengisian portal akademik. Mendengar kata ‘online’ yang ada di benak kita adalah kepraktisan/kemudahan karna sistem birokrasinya sudah modern. Namun tidak sama dengan fakta di lapangan. Sistem online tidak berlaku sepenuhnya. Kata ‘online’ hanya sampai pada pemilihan mata kuliah dan pencetakan Kartu Rencana Studi (KRS). Setelah itu, hal berbelit pun muncul. Seperti susahnya bertemu dosen untuk meminta tanda tangan, minta surat ini-itu, beralih dari kantor ini-itu. Lantas banyak mahasiswa berguman untuk apa sistem online jika masih berbelit seperti ini.
Bukankah tujuan birokrasi mengatur/mempermudah segala urusan ? namun ada saja hambatan seperti petugas birokrasi yang memperlambat sehingga banyak waktu yang terbuang.
Bukankah mahasiswa itu agent of change. Agen perubahan sosial, penerus bangsa yang di yakini mampu bersaing & mengharumkan nama bangsa, juga mampu menyakinkan serta menyampaikan aspirasi untuk memajukan bangsa ? bagaimana bisa maksimal jika banyak waktu yg terbuang ?
Mungkin bagi mahasiswa , birokrasi di kampus adalah hal yang paling membosankan. Harus dari kantor ini-ke kantor itu. Dari jurusan, prodi, atau akademik. Hal-hal seperti ini juga sering membuat kita malas mengurusnya. Sehingga banyak kejadian mahasiswa yang salah memilih mata kuliah bahkan lulus tidak tepat waktu hanya karna bermasalah dengan proses administrasi yang berbelit.
Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam salah 1 berita online mengkritik bahwa birokrasi yang berbelit menjadi penghalang negara yang modern. Dari sini saya menangkap jika birokrasi kampus yang berbelit akan menjadi penghalang unmul yang modern.
Menurut saya, untuk meningkatkan efisiensi dalam birokrasi kampus,  kita perlu memaksimalkan teknologi yang kita punya. Tentunya dibarengi dengan peningkatan SDM pelayan publik. 

Arogansi Intelektual

Jumat, 20 April 2012

hampir setahun aku menjadi mahasiswa, mengemban sebuah nama yang menjadi penerus bangsa, menjadi harapan keluarga, teman bahkan bangsa & negara, menjadi kaum yang dipandang dengan intelektual yang tinggi, menjadi orang di contoh.

seorang mahasiswa tentunya tidak asing dengan diskusi , debat dan rapat (bagi yang mengikuti organisasi). Nah , inii diaa yang aku gak suka , entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa dalam sebuah rapat atau diskusi yang aku ikuti selalu saja menjadi ajang adu kepintaran, ajang menang-menangan , ajang pamer intelektual , sehingga bukan solusi yang di dapat , hanya sekedar 'aku setuju' dan 'aku tidak setuju'.
semakin tinggi pendidikan seseorang yang aku ajak berdiskusi , semakin tinggi juga kemungkinan aku yang di sudutkan , di remehkan , di nasehati. hingga akhirnya aku merasa kesal sendiri. terlebih karna aku adalah mahasiswa yang paling junior, paling awam, minim pengalaman dan dari ilmu sosial. entah kenapa para mahasiswa dari ilmu sosial selalu dipandang sebelah mata , dianggap remeh ketimbang mahasiswa yang berasal dari ilmu-ilmu pasti seperti fisika , matematika, komputer, teknik ,dll.
mereka memposisikan  diri bahwa mereka selalu benar , dan orang lain kurang benar. seperti dalam asumsi teori analisis transaksional (Buku: Teori Komunikasi, Edi S), orang-orang dengan sikap arogansi intelektualnya memilih posisi hidup "Saya Oke, Kamu Tidak Oke". mereka menganggap dirinya sebagai positif namun tidak dengan orang lain.

Arogansi Intelektual ialah rasa superioritas akibat merasa diri ahli dalam bidangnya. Sehingga merasa orang lain yang tidak berpendidikan sama atau lebih tinggi itu lebih bodoh daripada dirinya. Sehingga tidak perlu didengar omongnya.. inilah yang aku alami beberapa hari yang lalu,  karna 'seseorang' itu merasa ahli dalam bidang itu , sehingga segala usulan , ide, gagasan yang aku keluarkan dianggap remeh temeh.

Huh , memang kadang intelektual perlu di taklukan , banyak yang mengatasnamakan intelektual untuk menjadii arogan.

1 (lagi) pelajaran hidup yang aku dapat. walaupun aku kesal dengan 'seseorang itu', namun aku belajar dari 'seseorang itu' agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan dia. Everything For a Reason.




referensi :
Buku Teori Komunikasi (Edi S)









Berlian vs sampah...

Kamis, 26 Januari 2012

pandanganku terhadap orang sekitarku hanya ada 2 kategori. yaitu BERLIAN dan SAMPAH.

Berlian
seperti sifat berlian, berkilau dimana pun ia berada. menyilaukan mata orang yg melihatnya sekali pun itu di tempat sampah. berlian tetap berlian. akan selalu bersinar dan akan selalu berharga.
orang yang ku anggap berlian adalah orang2 yg melejit di hatiku karna bakat, skill , integritas dan intelektual yang mereka miliki. orang seperti ini justru berasal dari kalangan 'gak punya' dan kaum minoritas. orang-orang seperti inilah yang selalu membuat aku kagum luar biasa, selalu menyilaukan mataku walaupun tampilan luar mereka biasa-biasa saja. namun , bukankah sebuah berlian awalnya terlihat seperti batu biasa yg tidak berharga ?? diabaikan orang-orang.

orang-orang inilah yang mengajarkan aku bahwa penampilan dapat dibentuk dalam waktu 1 jam , namun karakter ?? butuh waktu yg lama untuk membentuknya.


Sampah
sifat sampah , tidak terpakai lagi , di buang begitu saja. jika pandai mendaur ulang ia akan berharga+bersinar seperti berlian. namun jika tidak , ia akan terabaikan begitu saja. namun karna tak ingin terabaikan , sampah ini menutupinya dengan barang bermerk. tapii tetap saja , di mataku tidak berharga sama sekali.  palsu.






tulisan serius kuu

Minggu, 30 Oktober 2011

 i'm back !! kasian blogku gak terurus karna kesibukan plus kemalasanku .. huhu .. maafkan aku yah my blog ..




and buat kesekian kalinya gue nulis serius. Lagi-lagi karn alasan sebuah kompetisi. Kalo dulu gue nulis buat ikut lomba2 di SMA. Sekarang gue nulis serius buat seleksi di sebuah UKM (unit kegiatan mahasiswa) di kampus gue and berhubung gue habis baca buku bertema feminisme, yah akhirnya gue nulis sebuah tulisan yg judulnya ''Wanita" .. silahkan dibaca n happy reading :)

WANITA


“Percuma sekolah tinggi, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga”
“Setinggi-tingginya perempuan bersekolah. Akhirnya lari ke dapur juga”
Sayang… udah sekolah tinggi tapi cuman dirumah ngurus anak & suami”
3 pernyataan di atas atau pernyataan lain yang senada sering dilontarkan di masyarakat dahulu jika ada seorang perempuan yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah). Dulu, sangatlah langka jika ada seorang perempuan yg ingin melanjutkan pendidikannya. Karna umumnya setelah lulus SMA para perempuan ini menikah. Mengapa? Karna begitulah kodrat wanita. Menikah, melahirkan, & mengurus anak dan suami.
Namun berbeda dengan fenomena saat ini, kita sering mendengar istilah wanita karir. Wanita lajang atau wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak bekerja di luar rumah. Kekhwatiran akan perceraian, suami yang meninggal, biaya hidup yang semakin tinggi, dll itulah yang membuat para wanita ini bekerja di luar rumah. Sehingga kadang wanita-wanita ini rela meninggalkan anak yang masih sangat butuh perhatian dengan di titipkan pada babysitter atau tempat-tempat penitipan anak. Inilah yang sering dipermasalahan, anak yang kurang perhatian karna sang ibu sibuk bekrja diluar rumah mencari perhatian di tempat yang salah.
Salah 1 faktornya ialah wanita zaman sekarang cenderung ingin mandiri. Biasanya setelah menikah ia tidak akan berdiam diri dirumah, ia akan bekerja walaupun sudah mempunyai anak. Alasannya bermacam-macam, ada yang ingin membantu suami, beraktualisasi, bersosialisasi, mengamalkan ilmunya, dll.
Faktor lainnya ialah kesamaan hak atas pendidikan. Tidak seperti dahulu, sebelum emansipasi wanita hanya laki-laki yang boleh mendapatkan pendidikan tinggi. Kini, 60% mahasiswa di perguruan tinggi ialah perempuan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan itu penting tidak hanya bagi laki-laki tetapi perempuan juga.
Mengenai masalah diatas tentunya ada pro dan kontra wanita yang bekerja di luar rumah. Pro, karena wanita bisa menambah penghasilan suami, mengamalkan ilmu yang mereka dapat saat besekolah dulu, dll. Kontra, karena seakan-akan wanita melupakan kodratnya untuk mengurus anak dan suami dengan bekerja diluar rumah dan menitipkan anak ke babysitter atau tempat penitipan anak.
Menurut saya, pendidikan tinggi untuk wanita itu penting. Karena saat wanita melahirkan anak & menjadi ibu, guru pertama anak itu ialah sang ibu. Karena itu diperlukan seorang ibu yang berwawasan luas untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Dan menjadi ibu rumah tangga ialah pekerjaan yang terbaik.

Tak harus mahal

Jumat, 13 Mei 2011

Menjadi cantik, modis, fashionable tak harus mahal. Cantik bukan sekedar di wajah. Tapi di hati. Modis & fashionable tak harus memakai brg dari mal atau butik. Apa derajat mu akn naik jika memakai pakaian mahal ?? Menurutku Tidak. Bandingkan saja !! Hrga 1 buah longdress bisa ditukar dgn 3 longdress di pasar semimodern. Lalu mengenai kualitas, menurutku produk mall msih kalah.
Modis, fashionable & tidak pasaran tak harus mahal. Pasar loak pun dpt di jadikan alternatif (asal anda pintar memilih)

Jangan jadi budak brand. Kau tau, bagiku walaupun suatu barang itu tidak branded, namun jika seseorang itu pantas memakainya, semua itu akan kelihatan borjuis. tidak peduli seberapa mahal suatu barang itu namun jika empunya tidak pantas memakainya tentu akan terlihat tidak baik. bagiku bukan seberapa mahal perhiasan dunia itu namun seberapa pantas kita menggunakannya.

Perbedaan

Rabu, 23 Maret 2011

Bnyk yg menganggap perbedaan adlh pemicu konflik. Bagiku tidk. Aku melihat sisi lain dari perbedaan. Justru perbedaan itu indah. Aku suka pergi ke tmpt2 dmn ak bisa menemuni brbgai mcam org, budaya, & bhasa. Beruntung aku tngal di kota yg suku pendudukny heterogen. Aku bisa menemukan brbagai mcam org dgn suku & karakter yg berbeda2.
Hal yg aku suka dari perbedaan ini ialah mendengar org brbicara dgn bhsa daerahnya msing2. Ada perasaan geli (baca:lucu;awas klo pkiran lu ngeres) & kagum.

Penampilan menipu

Jumat, 18 Maret 2011

Selama SMA aku bnyk belajar hal2 yg baru. Salah 1nya yg pling trtanam kuat ialah masalah penampilan. Dulu, saat msh lugu(lugu-lugu bangsat) aku tdk prnh berpikiran sejauh itu. Pikiranku seolah2 msih polos lalu tercemar noda coklat yg membuyarkan kebeningan pikiranku dulu. Selama ini aku tertipu oleh penampilan org2 di sekitarku. Aku lupa bhw aku tdk lgi brda di pikirn ank2 yg dmn sgla ssuatu trlihat baik. Penmpiln org2 yg ak temui skrng sring menipu. Berjilbab belum tentu solehah. Lusuh bkn brarti gembel.

Pinggir jalan VS resto+cafe

Senin, 14 Maret 2011

Sejatinya kuliner pinggir jalan lebih enak daripada kuliner yg dijual di cafe/resto. Namun, karna telah di butakan gengsi akhirnya rasa asli dari kuliner tersebut tersamar oleh bumbu kengengsian yg tinggi.
Ada yg slah dgn warung pinggir jln ?! Apa reputasi akn turun jika makan di warung pinggir jaln ?! Apa rasa masakan akn berubah jika hrgany lebih murah ?! Justru itulah uniknya. Wisata kuliner akn terasa sangat nikmat jika kita makan di pinggir jalan. Rasa asli masakan pun tdk berubah &hrga yg murah.

Pendidikan yg semerawut di negri ku..

Rabu, 09 Maret 2011

Aarrghhh !! Gak asik bgt nh pemerintah. Makin di persulit para pelajar SMA (terutama angktn ku) utk lulus.
Tahun nih UN paket soal menjadi 5. Yaitu paket A,B,C,D,E. Huh, pdhl tahun kmren cman 2 paket.
Aarrghh . Lebay nih diknas. Nyaman bgt bkin kebijakan baru. Untuk apa? Untuk memilih bibit yg benar2 brkualitas?
Faktany, msh bnyk SDM pengajar yg krng berlualitas. Tentu ini akn sngt menyulitkan
Semoga anda semua di ampuni karna telah menyusahkan bnyk org (baca: aku & tmn2 1 angktn se-indo)
Hha .

Akar yg sudah rusak

Sabtu, 05 Maret 2011

Salah 1 masalah negara bodoh yg ku sayangi ini ialah masalah moral. Kalo ngomomgin masalah moral gak akn ada habisnya. Gmn gak ?! Wong dari kecil sudah bermasalah. Bayangin ajah anak kelas 4 sd ajh sudah pintar merokok. Ditambah dengan tontonan yg hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan mutu.
Masalah ini saya analogikan dgn sebuah tanaman. Kalau dari akar sudah rusak, tanaman itu tidak tumbuh dengan baik. Begitu juga dengan bangsa ini.


Just 4 sharing about my opinion. Maaf jika tulisan ini kurang baik.