Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

After Graduate

Senin, 30 November 2015

Tepat 1 Desember Taun Lalu, 1 Desember 2014 

Alhamdulillah Allah takdirkan saya lulus lebih cepat dibanding teman-teman yang lain. Dengan masa studi 3 tahun 5 bulan. Lulus dengan predikat memuaskan dan (hampir) mengantongi IPK cumlaude. Hhheee.



Bagi saya, itupun sebuah momen pembuktian bahwa seorang organisatoris dengan segala kegiatan akademik dan organisasinya juga mampu berprestasi gemilang dan lulus lebih cepat. Hingga akhirnya, pendapat bahwa organisatoris lulus lambat dapat terpatahkan.


Sudah lulus bukan berarti berhenti belajar. Justru, saya lebih ekstra belajar menghadapi kehidupan setelah lulus. 2015 ialah tahun pertemuan dengan orang-orang baru yang mengajarkan ilmu-ilmu baru & bermanfaat untuk saya & orang sekitar.

Di awal tahun, saya bertemu senior di kampus yang juga memiliki bisnis di bidang textil. Disitu, saya banyak belajar mengenai proses produksi sampai pemasaran.

Pertengahan Tahun mulai beralih ke marketing komunikasi. Lebih spesifik komunikasi politik. Karena pekerjaan pertama saya ialah Staf pada perusahaan konsultan komunikasi, juga saya memegang jabatan sebagai LO untuk proyek pilkada di Bontang.

3 bulan di konsultan akhirnya saya berhenti dan fokus pada rekrutmen di perbankan. Disini, saya banyak bertemu dan belajar hal baru (lagi) lebih-lebih mengenai dunia perbankan, tahap rekrutmen dan psikologi dunia kerja.

Setelah itu, saya menyerah pada ambisi untuk menjadi pegawai Bank. (Mungkin ini juga salah satu jalan dari Tuhan).

Untuk Mengisi waktu selama belum mendapatkan pekerjaan, saya mencoba untuk mengikuti pelatihan administrasi perkantoran di suatu tempat pelatihan yang bekerja sama dengan disnaker Bontang & BLKI samarinda. Sebulan mendapat pelatihan hingga akhirnya tibalah waktu magang. Sebelumnya, Kantor Pos, Telkom & Dinas penerangan sempat menolak saya.

Namun saat itu, saya pasrahkan & kembalikan pada Tuhan. Apapun yang terjadi, Saya berdoa untuk tetap ikhlas menerima kenyataan dan tetap semangat untuk usaha lebih keras.

Hingga akhirnya, Perusahaan penghasil pupuk terbesar di Asia Tenggara menghubungi instansi pelatihan saya, dan akhirnya saya & beserta teman2 lain direkomendasikan untuk mengikuti tes diperusahaan pupuk tersebut.

2 minggu setelah itu saya pun dinyatakan lolos dalam seleksi dan menjalani masa training selama seminggu sebelum akhirnya ditempatkan di unit kerja.




***



Masih serasa mimpi dan penuh syukur tentunya. Aku bisa magang ditempat yang dulu tak bisa kubayangkan. Bisa berada ditempat yang dengan pengamanan ketat dan hanya bisa ku lihat dari kejauhan. Dari balik pagar pembatas yang menjulang tinggi.

Juga disini, Allah menunjukkan, bahwa rencana-Nya memang terbaik. Gagal dalam setiap tes rekrutmen Bank, Ditolak dari kantor pos, Telkom dan dinas penerangan. Tapi Allah berikan yang lebih baik. Yaitu Departemen Keuangan.

Dari rentang pelatihan sampai tulisan ini aku ketik, Alhamdulillah, Tuhan memberikan rezeki dalam bentuk lain yaitu dipertemukan dengan orang-orang baik, berenergi positif dan mau berbagi banyak ilmu baru.
Memang benar, kita dapat mereguk ilmu dari banyak pintu dan semoga ilmu yang didapatkan kelak akan dapat bermanfaat.


For better future
For better Life


Alhamdulillah

#throwback

Senin, 01 Juni 2015

Hallo juni.

Juni Taun lalu banyak cerita. Seminggu pertama ada dirumah *ini libur pertamaku selama kuliah di semester 6, semester paling padat kegiatannya* Lalu minggu kedua ngjalanin UAS, namun dipertengahan UAS malah sakit. Niatnya pulang berobat ke Bontang bentar ajah, tapi situasi berkata lain. Begitu sampai ke bontang langsung dilarikan kerumah sakit karna kondisiku yg sudah sangat lemah. Gak sampai disitu, saat di UGD terlantar smpai subuh karna saat itu dokter jaganya cuman 1 dan ada pasien yg lebih urgent drpd aku. Yah, minggu ketiga di juni taun lalu dihabiskan dirumah sakit. Lalu begitu keluar rumah sakit, tanpa bedrest dulu, di minggu keempat juni langsung ngjalanin pengabdian masyarakat (KKN). Bener2 perjuangan. Tapi tetap bersyukur karna saat itu, teman kos, teman kuliah dan teman KKN sangat mengerti kondisiku saat itu. 

Berubah


Setomboy apapun perempuan, aku yakin dia pasti ingin tampil cantik. Walaupun ia tidak pernah mengatakannya. Itulah pengamatan disekitarku terhadapa teman-temanku.

Ada waktunya kamu yang boyish akan berubah menjadi girly. Itu sudah naluri.

Namun, aku heran, saat usia SMA atau kuliah, wanita2 yang peduli penampilan itu seakan dicibir. Yah, mungkin kasarnya disebut 'centil' atau 'genit'

Aku termasuk pro dengan orang-orang yang menjaga penampilan tersebut. Tidak harus cantik, namun setidaknya merawat diri. Tidak melulu dandan di setiap acara namun tau penempatannya.

Atau mungkin kalian penganut aliran 'inner beauty' atau 'cantik natural' ??? Hey, cantik natural bukan berarti tidak merawat sama sekali Apa yang sudah diberi Tuhan. Dan inner beauty itu hukumnya mutlak. Tidak hanya membuat penampilan luar yang cantik, namun harus diikuti dengan manner dan attitude yang baik.

Bicara attitude, setiap kali aku dekat dengan seseorang, aku selalu berusaha untuk memantaskan diri. Baik dari segi wawasan, penampilan, bahkan kelakuan. Memang jika dilihat dari luar mereka akan berkata 'Be yourself' saja. Namun bagiku, kalo untuk perubahan ke arah yang lebih baik kenapa gak ?? Toh, aku masih merasa nyaman dan tetap merasa menjadi diriku sendiri.

Juga saat memasuki usia 20an, menjaga penampilan sudah mutlak namanya. Sesayang-sayangnya kamu dengan sepatu kets/converse mu, kau harus berpenampilan formal dan profesional. Jika tidak begitu, maka kau akan kesusahan sendiri bahkan malu sendiri.

Untuk itu, para wanita yang merawat diri merupakan sebuah persiapan. Selain itu, kegiatan merawat diri bagi wanita itu merupakan kegiatan yang memiliki efek kesenangan tersendiri. Misal saja, berdandan. Jika saat sedang galau, aku berdandan untuk diriku sendiri. Karna berdandan membuatku merasa lebih baik saat itu. Saat sedang stress, aku dengan mudahnya membuang tabunganku hanya untuk menyumpal kelaparan mata pada aksesories atau baju. Bahkan berlibur ditengah harga tiket yang lumayan tinggi. Jika bukan kita, siapa lagi.

Well, untuk kalian yang mencibir wanita-wanita yang merawat diri, akan ada saatnya kamu berubah, entah dari segi pakaian atau make-up ke arah yang lebih girly. Karna itu naluri ..

Kisah seminggu yang lalu

Berdua lebih baik
Jaman sudah modern. Gak ada orang yang hidup saling berjauhan. Tapi tidak ada juga orang yang hidup saling berdekatan. Sepeti jejaring sosial. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat .

"Kau hanya membutuhkan 1 orang teman, itu sudah cukup, hanya satu, dengan begitu kau tidak akan takut" Han Jung Wo - I miss u

Beberapa waktu terakhir kejenuhanku makin menjadi-jadi. Ada yang aneh dengan diriku. Aku tiba-tiba saja merasa kesepian. Bukan karna aku tidak memiliki teman. Tapi karna tak ada yang mampu memahamiku. Mereka hanya mendengar, tapi tidak memahami. Terlebih ini adalah masa dimana aku berhenti berpetualang dan merasa amat sangat kehilangan pada pemilik labuhan petualanganku. Berpetualang dari satu hati-hati ke hati lain. Namun anehnya, aku berhenti berpetualang pada hati yang tidak pernah kusangka-sangka.
Hingga aku sedikit berubah, menjauh dari pergaulanku, menyendiri. Aku tidak menyalahkan mengapa orang-orang tersebut tidak memahamiku, karna aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui apa yang ku ingini. Karna aku merasa ada yang hilang tanpa tau apa yang sudah ku temukan. Anehnya jika kejenuhan itu mulai menjadi-jadi aku seakan bersedih tanpa tau apa yang harus ku sedihkan.

***

Lain lagi dengan cerita kesepian ku karna aku merindukan rumah & keluargaku. Aku bukan tertutup pada mereka, hanya aku tidak ingin menambah beban mereka. Hari-hari mereka sudah cukup berat untuk mencari uang demi makanan enak, baju bagus, dan ijazah untukku. Aku tidak ingin dengan cerita sedih dan keluhanku yang tidak seberapa itu menambah kerunyaman hidup mereka. Memang No pain no gain. Tapi pain tolerance ku rendah. Aku terbiasa menjadi anak tunggal dan manja selama 14 tahun, dan saat usia 17 tahun.harus belajar hidup mandiri dan sendiri dikota orang. Bergelut dengan sumpeknya ibukota dan menyimpan banyak kesal dalam hati sendiri. Yah sendiri.

Alhasil aku mulai belajar untuk berteman dengan diriku sendiri, membahagiakan diri sendiri dan berusaha nyaman melakukan apa-apa sendiri. Jangan heran jika melihatku berbelanja di mall sendirian, jangan juga heran melihatku membeli dvd drama bajakan lalu menonton drama berjam-jam hingga lupa waktu dan membeli es krim saat cuaca sedang dingin. Aku hanya belajar menerima keadaan, belajar membahagiakan diriku sendiri. If i'm not for my self, who will be ?? Jika sendiri terasa nyaman, berdua pasti akan lebih baik. Karna jarang ada yang betah berlama-lama denganku. Untuk itu, aku amat sangat berterima kasih untuk orang-orang yang mau menemaniku dalam waktu yang lama, aku amat sangat menghargainya.
Hingga akhirnya, tanpa angin tanpa petir, aku kelelahan dan aku menangis didepan orang tuaku, menangis sejadi-jadinya namun tidak ada yang aku ucapkan. Banyak yang ingin aku ceritakan, tapi aku hanya sanggup membuat suara tangisan.
Yah . Beginilah kisah kejenuhanku .

Hidden Beach

Selasa, 12 Mei 2015



 

Pada Pantai Rahasia.

Setidaknya sekali seumur hidup, kamu harus merasakan jatuh cinta di kota ini, terlebih pada senjanya. Senja di kota minyak. Sedari kecil senja di kota ini selalu sukses membuatku jatuh hati. Cantik namun sebentar, memukau, namun begitu lekas hilang. Seperti kamu. 

 

Di kota ini,aku mengenang bagaimana kita bisa bertemu, menelusuri tempat-tempat yang mungkin pernah kau datangi, dan menerka-nerka bagaimana rasanya menjadi kamu. Lama tidak mendengar kabarmu, bagaiamana kah kamu sekarang, apakah kamu sedang berbahagia ? semoga kamu selalu dijagaNya dengan baik. Dan kamu, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, karena untuk sementara aku tidak akan ada di sekitarmu.

 

“Tidak ada korelasi positif antara durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan itu berakhir” dikutip dari Novel Surat untuk Ruth.

 

Yah, kutipan itu setidaknya mewakili unek-unekku saat ini. Did you know when you go it’s the perfect ending, to the bad day I just beginning, when you go all I know is you’re my favorite mistake. Aku pernah ada di masa ketika yang hilang itu membuat ku kelabakan dan berurai kata meracau, hingga tidak dapat mengendalikan diriku sendiri.

 

Aku tidak akan membenci atau mendendam atas apa yang sudah terjadi. Pikirku, memang inilah yang harus terjadi.  Justru aku berterima kasih. Terima kasih karna waktu itu sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat ku yang tidak seberapa itu, dan mungkin membuatmu berguman “apaan sih, lebay, norak” . tapi tidak apa, itu hak mu. Terima kasih karna dulu sempat membuatku merasa dicari, terima kasih untuk tetap ada dan tidak seketika memutuskan komunikasi, dan terima kasih sudah membuatku yang naïf ini bisa berani berjalan sejauh ini. Aku amat sangat berterima kasih , karna kini, jika melihat kebelakang, aku sudah berjalan ke arah yang lebih baik.

 

Aku menulis ini bukan karna ingin menjadi penulis, setidaknya ini membantuku melepas kenangan dan pikiran masa lalu yang dulu pernah ku genggam dengan erat dan membebani pikiran hingga membuatku kelelahan dan sakit.

 

Kini aku tidak akan menyangkalnya lagi, malah akan berusaha lebih menerima. Namun maaf jika sewaktu-waktu aku masih mencarimu, masih mengharapkanmu, tidak bisa menghilangkan perasaan ku begitu saja, mohon maaf. Kau tau ini hati, aku pun tidak dapat mengendalikannya.

 

Be down to earth yaa, mimpimu mungkin setinggi langit, tapi kakimu masih harus berpijak di bumi. Kejar mimpi dan cita-citamu. Jika kau tersandung dan jatuh, jangan merasa sendiri, aku siap membantu dan menopangmu. Dan nanti mungkin bukan aku yang ada di sampingmu atau baris terdepan melihat kesuksesanmu, namun ketahuilah standing applause terkeras itu adalah dari aku.

 

*dalam rinai hujan*

Balikpapan, 28 April 2015 – 09.30 pm



Calon Menantu Pria Idaman Para Ayah



Dalam artikelnya, "A Daddy's Letter to His Little Girl (About Her Future Husband)", sebagai seorang ayah, Kelly mengungkapkan isi hatinya lewat surat tentang kriteria pria yang diinginkannya sebagai suami putrinya. Surat ini menggambarkan bahwa seorang ayah sebenarnya tidak punya kriteria yang muluk dan berat kepada pria yang akan menjadi menantunya. Yang terpenting adalah si pria harus bisa membahagiakan dan menjaga putrinya sepenuh hati, seperti ayah yang menjaga putrinya. 


Inilah surat Kelly untuk putri-putrinya.


"Putriku, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Seorang pria yang layak untukmu adalah pria yang tahu bahwa kamu adalah sosok yang menarik. 

Aku tidak peduli kalau ia meletakkan sikunya di meja makan, selama ia tidak bisa melepaskan pandangannya darimu dan terpesona saat melihat senyumanmu. Dan ia tidak bisa berhenti untuk membuatmu tersenyum setiap saat.

Aku tak peduli kalau ia tidak bisa bermain golf bersamaku, asalkan ia bisa bermain dengan anak-anak yang kau berikan kepadanya, mengalami setiap masa senang dan frustrasi bersama-sama.

Aku tak peduli dia punya tubuh yang kuat, asalkan dia punya semangat dan usaha yang kuat untuk tetap bisa ada di hatimu selamanya. 

Aku tak peduli kalau dia boros dan tidak pernah mengikuti dompetnya, asalkan ia selalu bisa mengikuti kata hatinya yang selalu menuntunnya untuk kembali padamu.

Aku tak akan pernah peduli siapa yang akan dipilihnya di pemerintahan, asalkan saat ia bangun pagi ia selalu memilihmu dan menempatkanmu sebagai orang nomor satu di rumah dan di hatinya.

Aku juga tak pernah peduli dengan warna kulitnya, selama ia selalu bisa mewarnai kanvas kehidupan kalian dengan pengorbanan, pengertian, kesabaran, dan kelembutan.

Dan pada akhirnya sayangku, jika kau sudah menemukan pria seperti ini, aku akan menyetujuinya. Karena aku, ayahmu, dan pria yang akan menjadi suamimu ini, punya satu kesamaan. Kami akan sama-sama punya satu hal yang paling penting dalam hidup kami, yaitu kau." 

Anak Perempuan yang Meninggalkan Rumah




Setua apapun anak perempuan, dia masih putri kecil yang tidak tau apa-apa bagi orang tuanya. Terlebih bagi seorang ayah.

Ayah adalah orang yang paling kuat, , ayah tipe orang yang tidak ada lelahnya dan pekerja keras, terlebih saat mencari uang demi ijazah, baju cantik dan makanan enak untuk anak perempuannya. ayah terlihat sok cuek dan kuat, ayah jarang menelpon anak perempuannya yang sedang kuliah di luar kota hanya untuk menanyakan kabar. Tapi justru ayah lah yang menyuruh mama menelpon dan menanyakan kabar anak perempuannya.

Namun, ayah lah yang selalu memberi uang jajan lebih secara sembunyi-sembunyi dari mama pada anak perempuannya. Ayah ialah orang yang paling panic saat anak perempuannya bercerita bahwa ia mengalami luka kecil saat terjatuh dari motor. Ayah yang selalu menelpon sampai 5 kali sehari saat anak perempuannya mengeluh sedang sakit. Ayah yang selalu mengantarkan anak perempuannya di hari pertama ia memasuki jenjang pendidikan baru.

Tapi bukan tidak sering ayah memarahi anak perempuannya, yah, harap di maklumi jika anak perempuannya amat sangat manja.

Anak perempuannya pun sering kesal jika keinginannya tidak dikabulkan.  hingga merajuk beberapa hari dan hanya ayah yang sabar meghadapi sifat anak perempuannya yang seperti itu.  
Namun saat anak perempuannya meminta ijin untuk kuliah di luar kota, ayah lah yang paling berat memberikan ijin. Ayah ragu, bagaimana mungkin anak perempuan satu-satunya itu hidup mandiri dikota orang, ahh, ayah lupa, putri kecilnya kini sudah dewasa. Waktu sangat cepat berjalan.

Ayah ialah orang berat memberikan ijin, begitu pula dengan anak perempuannya, berat hati untuk meninggalkan rumah, terlebih ketempat asing yang baru dia kenal. Inilah jalan hidup yang harus dijalani, anak perempuannya harus meninggalkan rumah demi mengejar cita dan cintanya.  Namun ayah selalu meyakinkan, jika putrinya kelelahan atau terjatuh, rumah selalu terbuka lebar menyambutnya tanpa menuntut berhasil atau tidaknya. Ayah akan menerima kembalinya anak perempuannya ke rumah dengan tangan lebar.

dibelahan bumi manapun, seorang ayah selalu ingin terlihat kuat, sok cool, apalagi ketika anak perempuannya datang kepadanya dengan mengenalkan kekasih hatinya. Pasti rasa cemburu itu ada, dan saat itu juga, seorang ayah mungkin baru tersadar, putri kecilnya kini telah dewasa.
Dan suatu saat nanti, putrinya juga pasti akan meninggalkan rumah, bukan untuk alasan pendidikan, namun karna jalan hidup untuk berpasangan. Ketahuilah, meninggalkan rumah untuk seorang anak perempuan itu amat sangat berat. Lebih berat ketimbang saat meninggalkan rumah dengan alasan pendidikan. Tapi inilah hidup

Dan sebelum masa itu datang, anak perempuan itu kini merasakan rindu. Rindu ingin kembali ke masa kecilnya, dimana ia menangis hanya karna alasan ice cream. Rindu saat berada dirumah, karna tanpa sadar, anak perempuan itu selalu membuat tempat kini ia tinggal semirip mungkin dengan rumah tempat orang tuanya. Anak perempuan itu kini sudah sangat menghargai waktu, terlebih waktu berkumpul dengan keluarga. Anak perempuan itu juga rindu cinta pertamanya, yah, sapa lagi cinta pertama seorang anak perempuan selain ayahnya. Rindu yang amat sangat ditengah buih-buih gombal lelaki yang datang silih berganti.

*Terima kasih mengijinkan anak kecil ini berpetualang dan melihat dunia. Aku disini tidak akan lupa dengan tanggung jawab pendidikanku.


*dan saat tulisan ini di upload, anak perempuan itu sudah menyelesaikan tanggung jawab pendidikannya, namun ia masih haus pertemanan, petualangan dan pertemuan orang-orang hebat. Memang sudah masanya ia untuk pulang kembali ke rumah. Awalnya anak perempuan itu sangat excited mengetahui ia akan kembali ke zona amannya, namun ternyata ia juga merindukan kehidupan dan hari-hari yang berat dulu saat masih menempuh studi. Namun anak perempuan it uterus berusaha meyakinkan diri, bahwa memang sudah waktunya. Melakukan yang terbaik sebelum masa ia harus mengikuti cintanya tiba. Meninggalkan rumah untuk jalan hidup berpasangan.

Sapa suruh datang ke Samarinda

Minggu, 22 September 2013


Sepertinya aku harus mulai berdamai dengan kota tepian ini. Kota yang dulu sempat membuatku merindukannya. Tapi selama 2 tahun kebelakang aku maki-maki karna sifatnya yang kurang ramah padaku.

Yah, dulu saat aku masih bersekolah, aku selalu ingin berlibur dikota ini, selalu ada perasaan tenang saat kekota ini. (Baca : Kota Mahakam), aku tidak tau apa yang membuatku dulu amat berat meninggalkan kota ini dan selalu merasa ada yang memanggilku untuk datang ke kota ini.  Mungkin karna dulu aku merasa akan menemukan mozaik hidupku disini. Tapi kenyataannya, aku dihempaskan dengan pencitraan palsu.

2 tahun kebelakang aku amat sangat membenci kota ini. Kota yang tidak pernah ramah padaku. Mungkin dapat dikatakan aku mengalami culture shock. Tapi apapun namanya, aku tidak suka dikota ini. Sudah ku bilang kota ini tidak pernah ramah padaku.

Aku ingin kembali ke zona nyamanku, kota dimana orang tua ku berada. Kota yang dulu sempat ingin aku tinggalkan karna gombalan kota mahakam yang menawarkan berbagai keindahan.

Aku mulai merasa kangen, ingin kembali kekehidupan yang tenang tanpa perlombaan harta, kekuasaan & aksesoris.

Aku merindukan saat terbangun tengah malam & menyadari bahwa aku masih dirumah, bukan dikamar kecil sempit yang harus ku bayar tiap bulan.
Aku merindukan saat pagi hari berangkat sekolah mencium tangan kedua ortuku, namun kini yang ada adalah jika aku pamit pergi dan mencium tangan kedua tangan orang tuaku, artinya aku tidak akan bertemu mereka selama 1 bulan kedepan karna aku harus kembali ke kota ini, menjalani tanggung jawab penddidikanku.
Aku merindukan setiap pulang sekolah ada ahda (adikku) yang sangat antusias menyambutku pulang karna ingin bermain bersama ku dan menanyakan hari-hari ku disekolah bersama teman-temanku, tapi yang sebenarnya ialah kini tiap aku pulang ,bertambah satu helai rambut orang tua yang mulai memutih. 
Aku merindukan saat aku pulang terlambat, ada yang menelponku untuk menyuruhku segera pulang, walau kesal namun tetap membukakan pintu rumah, bukan bingung saat pulang terlambat akan tidur di kosan siapa.

***
Aku mendapat 2 bulan liburan fuul dikota tempat orang tua.ku tinggal. Tapi aku merasa ada yang hilang, aku merindukan kehidupanku di samarinda. Aku mulai merindukan hal-hal yang dulu aku maki, aku merindukan kulinernya, suasananya, kegiatannya, dan tentu saja orang-orangnya.

Sejenak berpikir, melihat kebelakang, aku sudah setengah jalan mengejar mimpiku, menyelesaikan hal yang membuat orang tuaku rela melepasku agar aku bisa mempunyai kehidupan sendiri.

Aku mulai merindukan kehidupanku selama dikota ini, terlebih kepada orang-orangnya.

Yah, sepertinya aku harus belajar berdamai dengan kota ini, karna pada nyatanya, kehidupanku telah berpindah kekota ini. Membuat kehidupan baru dikota ini, belajar menjalani hal-hal yang aku maki itu sebagai pemakluman. Ini lapanganku, ini ladangku, membebaskan  kreasi dan tindakanku disini. Dan masih berharap mozaik-mozaik hidup akan terkumpul dengan lengkap.

*untuk kota tempat aku tumbuh, tempat orang tua ku tinggal, tempat orang tua ku mencari rejeki, terima kasih untuk selalu memberiku ketenangan,menyapa ku dengan ramah,  menerimaku dengan tangan terbuka saat aku jatuh, dan memberi bekal-bekal yg cukup untuk hidup dikota tempat kehidupanku sekarang berlangsung. Doakan aku dapat pulang atau berkunjung kembali dengan kejayaan :)))

Published with Blogger-droid v2.0.10

Semoga Kau datang :))

Senin, 09 September 2013

Soundtrack dari tulisan ku Ruang Tamu . Happy Reading


Semoga Kau Datang
oleh: Sherina
 
Tertelan dalam masa laluku 
 
Yang berusaha 'tuk kulupakan 
 
 Ingin ku lari dari kesedihan
 
Yang bersemayam di lubuk hatiku
 
Semoga kau datang 
 
membimbingku menuju bahagia
 
Semoga kau datang meringankan luka di hatiku 
 
Dan meminjamkan bahumu
 
Dan menyeka air mataku 
 
Dan menggenggam kedua tanganku
 
Nanana nanana nanana

Hari Terakhir di usia 19

Senin, 26 Agustus 2013

Besok udah 20 tahun. Gak bisa lagi disebut tenager. Masa-masa peralihan dari remaja ke dewasa. setiap ulang tahun selalu aku renungkan untuk selalu beralih lebih dewasa lagi. Terlebih soal emosi. Emosi yang masih labil, masih sering egois & melakukan hal sesuka hati tanpa berpikir orang lain & tanggung jawab. Hal- hal seperti inilah yang menjadi PR besar setahun kedepan, PR untuk memperbaikinya. Belajar sok dewasa, biar bisa dewasa beneran.

Bicara hari terakhir di usia 19tahun, review ke belakang, setahun kebelakang tentunya banyak hal yg dapat dijadikan pelajaran.

*keluarga*
20 tahun usia ku, 21 tahun usia pernikahan orang tuaku. Aku besyukur bisa menjadi anak pertama, karna aku mengikuti jatuh bangunnya keluargaku. Aku pernah merasakan tidak nyamanya menumpang dirumah sodara abah saat rumah yang kami sewa terbakar, pindah dari rumah sewaan satu ke sewaan lain, hanya bisa meneguk liur saat aku ingin semangkok bakso yang harganya tidak seberapa tapi saat itu abah belum mendapatkan uang karna jualan yang sepi, sakit demam karna amat sangat menginginkan sepeda seperti teman-teman sebayaku. Yah, semua itu sudah terlewati.
Bersyukur karna dengan jatuh bangunnya keluargaku, pasangan aneh itu masih tetap bersama.
Bersyukur karna dengan aku merasakan itu, aku banyak belajar, belajar saling menghargai sekecil apapun itu hasilnya, belajar menjadi pribadi yang tidak matrealistis. Karna aku pernah merasakan terkadang harta memang penting, tapi ada hal-hal yg memang gak akan pernah bisa kamu beli dengan berapa pun banyaknya uangmu. Yaitu berkumpul dengan keluarga.
Bersyukur karna dengan aku merasakan itu, aku menjadi pribadi yang selow dan cuek, tidak memaksakan kehendak walau kini Alhamdulillah apa yang aku inginkan sudah dengan mudah aku dapatkan.
Bersyukur karna aku belajar menghargai proses jatuh bangun tersebut, memahami bahwa semua hal itu butuh proses, tidak seperti adikku yang lahir ketika keluargaku sudah mulai mapan. Hingga ia berkepribadian segala sesuatu itu instan & harus ada.
Bersyukur karna aku belajar artinya perjuangan & usaha. Karna kata Andrea Hirata "Hidup dengan usaha sama seperti mata yang ditutup dengan kain hitam dan disuruh memilih buah yang ada dikeranjang, apapun yang dipilih pastilah buah. Sedangkan jika hidup tanpa usaha sama seperti mencari kucing hitam di ruangan yg gelap dengan mata tertutup dan yang sebenarnya kucing hitam itu tidak ada".

Yah, kami sudah mendapatkan buah itu. Alhamdulillah ya Allah. Dan saat abah bertanya aku ingin apa, aku bingung menjawab, bukan karna banyak yang aku ingini. Aku mulai berhenti ingin ini itu dan mulai belajar merasa cukup, besyukur & mempertahankan apa yang sudah ada.

*seseorang spesial*
Setahun kebelakang ada beberapa orang yang saya ijinkan masuk ruang tamu hati saya. Seseorang itulah yang banyak mengajarkan hal baru. Masalah hati mengenai ikhlas-mengikhlaskan.

Dear you,  terima kasih sudah mengisi hari-hariku di usia 19, kejar mimpimu, namun tetaplah be down to earth, mimpimu mungkin setinggi langit, tapi kakimu masih berpijak di tanah. Hidup lah dengan tenang dan tanpa dendam masa lalu, maafkan lah segala kesalahan masa lalu.

Walaupun bukan aku yang bersamamu & mendampingimu atau berdiri di baris terdepan menyaksikan kesuksesanmu, tapi ketahuilah standing applause terkeras itu dari aku. Bismillah. This is my georgeous 20

Published with Blogger-droid v2.0.10

20

Rabu, 31 Juli 2013

Menjelang 20 ..

Menjelang umur 20 tahun, haduh, banyak yang sudah dilalui, tapi perjalanan juga masih panjang. Kepala 2, tidak lagi disebut remaja. Tapi masih cukup muda kok untuk beraktualisasi diri mewujudkan mimpi & passion.

Menjelang umur 20, tidur ku makin tidak nyenyak. Makin banyak saja yang aku pikirkan sebelum aku tertidur. Sejujurnya, aku merindukan saat aku menangis hanya demi sebuah eskrim. Merindukan tidur nyenyak tanpa rasa takut atau apalah.

Menjelang umur 20, hatiku pun sering memberontak. Entah dengan alasan apa. Hatiku ikut tak tenang.

Menjelang umur 20, aku dikejar kejar target percintaan, passion, mimpi dan kesuksesan.

Menjelang umur 20, aku dibayangi kesuksesan finansial oleh teman-teman sebaya ku

Menjelang umur 20, aku masih bertanya-tanya tentang hakikat hidup. Mengenai pemahaman prinsip & dinamika hidup.

Menjelang umur 20, aku Masih mencari-cari identitas dan jati diriku sendiri

Menjelang umur 20, aku belum memiliki konsistensi, komitmen, karakter & ketegasan.

Menjelang umur 20, aku masih bertanya-tanya apakah jalan didepan sana masih akan tetap berkerikil dan tajam ??


H-26 sebelum ulang Tahun ke-20

Published with Blogger-droid v2.0.10