seorang mahasiswa tentunya tidak asing dengan diskusi , debat dan rapat (bagi yang mengikuti organisasi). Nah , inii diaa yang aku gak suka , entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa dalam sebuah rapat atau diskusi yang aku ikuti selalu saja menjadi ajang adu kepintaran, ajang menang-menangan , ajang pamer intelektual , sehingga bukan solusi yang di dapat , hanya sekedar 'aku setuju' dan 'aku tidak setuju'.
semakin tinggi pendidikan seseorang yang aku ajak berdiskusi , semakin tinggi juga kemungkinan aku yang di sudutkan , di remehkan , di nasehati. hingga akhirnya aku merasa kesal sendiri. terlebih karna aku adalah mahasiswa yang paling junior, paling awam, minim pengalaman dan dari ilmu sosial. entah kenapa para mahasiswa dari ilmu sosial selalu dipandang sebelah mata , dianggap remeh ketimbang mahasiswa yang berasal dari ilmu-ilmu pasti seperti fisika , matematika, komputer, teknik ,dll.
mereka memposisikan diri bahwa mereka selalu benar , dan orang lain kurang benar. seperti dalam asumsi teori analisis transaksional (Buku: Teori Komunikasi, Edi S), orang-orang dengan sikap arogansi intelektualnya memilih posisi hidup "Saya Oke, Kamu Tidak Oke". mereka menganggap dirinya sebagai positif namun tidak dengan orang lain.
Arogansi Intelektual ialah rasa superioritas akibat merasa diri ahli dalam bidangnya. Sehingga merasa orang lain yang tidak berpendidikan sama atau lebih tinggi itu lebih bodoh daripada dirinya. Sehingga tidak perlu didengar omongnya.. inilah yang aku alami beberapa hari yang lalu, karna 'seseorang' itu merasa ahli dalam bidang itu , sehingga segala usulan , ide, gagasan yang aku keluarkan dianggap remeh temeh.
Huh , memang kadang intelektual perlu di taklukan , banyak yang mengatasnamakan intelektual untuk menjadii arogan.
1 (lagi) pelajaran hidup yang aku dapat. walaupun aku kesal dengan 'seseorang itu', namun aku belajar dari 'seseorang itu' agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan dia. Everything For a Reason.
referensi :
Buku Teori Komunikasi (Edi S)







0 komentar:
Posting Komentar