Setahun Berlalu

Kamis, 11 Agustus 2016


foto : tumblr



Setahun berlalu
Aku sudah hidup baik-baik saja
Mengikhlaskan dengan segenap hati apa yang memang terjadi

Setahun berlalu
Aku sudah hidup baik baik saja
Setelah berjuang menata kembali apa yang sudah berantakan

Setahun berlalu
Aku sudah hidup baik baik saja
Sembari memperbaiki & mempersiakan diri dan hati. Agar jika bertemu dikeadaan 
yg lebih baik. Agar jika bertemu aku sudah berani mengankat wajahku 

Setahun berlalu
Aku hidup baik baik saja
Tidak berkomunikasi scara langsung dan hanya Mendengar kabarmu dari teman-temanmu  
dan beranda sosmed mu

Setahun berlalu, 
Dan kau datang untuk menyapa

Setahun berlalu, 
Aku masih dagdigdug tidak keruan

Setahun berlalu, 
Terimakasih masih
menganggapku ada 

Bontang, 19 Juli 2016

Re-write : Sekolah, Haus Ilmu, Haus Pertemanan

Rabu, 13 April 2016



Bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi tentu hal yang amat sangat aku 
syukuri, Karna diluar sana ada yang memiliki semangat namun keberuntungan 
belum menghampiri,  ada juga yang sudah beruntung namun kadang malah 
menyianyiakan kesempatan bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. 

Memang belajar bisa dimana saja, Bahkan pelajaran kehidupan tidak ada 
di bangku kuliah. Namun sekali lagi, Bisa mengeyam pendidikan sampai ke 
perguruan tinggi itu hal yang amat sangat disyukuri.

Menjadi sarjana jangan hanya sekedar yang penting lulus. Karna 'kita' berbeda, 
'kita' harapan dan  agent of change. Perkara saat seorang sarjana memutuskan untuk 
berwirausaha setelah lulus,hal yang sering dianggap remeh temeh bagi sebagian 
masyarakat. Begitu pun dengan aku, saat aku  berkata pada orang tuaku ingin 
berwirausaha setelah lulus, tanggapan merekatentu menolak.  

Yah, Sukses di masyarakat identik dengan materi, fasilitas, karier dan jabatan. 
Wirausaha, yang  kasarnya dapat dikatakan dengan berjualan dianggap alternaltif
pekerjaan terakhir, wirausaha  dianggap pekerjaan dengan latar belakang 
pendidikan low.

Namun yang sebenarnya ialah berwirausaha itu setidaknya lebih terhormat 
ketimbang kamu memakan duit yang bukan hak mu (Korupsi). 
Bukan karna aku anakdari seorang pedagang lantas  aku mengagung-agungkan wirausaha, untuk hal itu aku punya kebanggaan tersendiri. Bahkan dengan pekerjaan yang dianggap remeh temeh itulah yang 
mengantarkanku bisa kuliah, mengantongi ijazah perguruan tinggi & 
bisa mengetik tulisan di gadget ini.

Aku punya kekaguman tersendiri pada para 'pedagang'Entah dari kelas 
high hingga kelas low. Aku salut. Bahkan dalam ilmu ekonomi pun pedagang 
dikatakan sebagai penggerak perekonomian daerah/negara. Namun bukan 
berarti aku mengatakan menjadi karyawan/pegawai itu tidak baik.  

Menjadi karywan atau wiraswasta sama-sama baik. Tidak ada yang lebih baik. 
Karna keduanya seimbang. Baik atau tidak itu soal pilihan diri masing-masing.

Aku sendiri adalah sarjana jurusan komunikasi. Namun aku tidak membatasi diriku, 
aku punya  banyak minat. Aku tidak membatasi diriku bahwa aku harus berkarier 
linear sesuai dengan background pendidikanku. Apapun yang aku minat aku 
coba melakukannya.  Tidak masalah jika tidak linear dengan background 
pendidikan ku. Aku pikir itu tandanya aku belajar hal baru.   Dan apapun 
pendidikan yangaku dapat, kelak adalah sebuah kebutuhan yanga amat sangat 
penting entah akhirnya aku berkarir, berwirausaha atau menjadi ibu rumah tangga,  
pendidikan itu akan menjadi kebutuhan anakku kelak, karna aku lah guru 
pertama dan utama untuk  anakku. setidaknya, rasa haus intelektual dan haus 
pertemanan dan pertemuan dengan  orang-orang hebat sudah terobati. 
Karna Sekolah bukan tentang ajang gengsi, tapi tentang haus ilmu.

Kamu hanyalah keluarga kecil yang mencoba memperbaiki hidup.  
Berikhtiar untuk hidup lebih baik. Bukan kah Tuhan tidak akan mengubah 
nasib suatukaum jika kaumnya tidak berusaha ? Hal itulah yang kami ilhami. 

Terinspirasi juga dengan kutipan pada novel Laskar pelangi 
“Tapi yang pasti pengalaman selalu menunjukkan bahwa hidup dengan usaha  adalah mata
yang ditutupuntuk memilih buah-buahan dalam 
keranjang. Buah apapun yang didapat tetap mendapat buah. 
Sedangkan hidup tanpa usaha adalah mata yang ditutup 
untukmencari kucing  hitam di dalam kamar gelap 
dan kucingnya tidak ada.” 


Terus berusaha, berjuang untuk mencapai cita-cita juga agar 
memiliki hidup yang lebih baik. Karna support itu juga yang selalu menjadi amunisi 
semangat disaat krisis semangat melanda. 


Menurutku kehausan untuk menuntut ilmu tidak membatasi siapapun.  
Mungkin mereka yang dari keluarga berkecukupan dengan fasilitas lengkap 
memiliki kesempatan lebih besar untuk mengeyam pendidikan di sekolah 
ternama. Namun setidaknya, pengajaran, perjuangan & nasehat dari orang tua untuk 
memperbaiki nasib, untuk masa depan  yang lebih baik membuktikan, ditengah 
kesederhanaan,untuk tetap mengutamkan pendidikan.

Bagi mereka meninggalkan warisan kepada anak berupa harta berlimpah tidaklah cukup.  
Mereka percaya dengan ilmu yang dimiliki itulah yang akan 
meninggikan derajat mereka di surga kelak. 


Menimba ilmu juga tidak harus di sekolah. 
Namun bukan berarti itu alasan untuk menjalani hidup apa adanya tanpa mengusahakan 
& berjuang  untuk mengeyam pendidikan. 


"Allah tidak menghukum orang yang tidak tahu 
 tapi Allah tidak suka dengan orang tidak mau tahu” . 


Kita dapat menimba ilmu dari manapun dan pastikan kelak akan bermanfaat,  
tidak hanya untuk diri sendiri namun bagi orang sekitar dan banyak orang.
Jika belum mendapatkan kesempatan untuk mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, 
tetaplah belajar dari mana pun, dari banyak pintu ilmu. Menuntut ilmu adalah jalan untuk 
mendapatkan keridhoan-Nya. Ilmu adalah pintu untuk dapat menebar manfaat untuk sesama. 


"Sekolah adalah dahaga intektual, bukan tentang penunjukkan kecerdasa"- 
@junohadinoto 



After Graduate

Senin, 30 November 2015

Tepat 1 Desember Taun Lalu, 1 Desember 2014 

Alhamdulillah Allah takdirkan saya lulus lebih cepat dibanding teman-teman yang lain. Dengan masa studi 3 tahun 5 bulan. Lulus dengan predikat memuaskan dan (hampir) mengantongi IPK cumlaude. Hhheee.



Bagi saya, itupun sebuah momen pembuktian bahwa seorang organisatoris dengan segala kegiatan akademik dan organisasinya juga mampu berprestasi gemilang dan lulus lebih cepat. Hingga akhirnya, pendapat bahwa organisatoris lulus lambat dapat terpatahkan.


Sudah lulus bukan berarti berhenti belajar. Justru, saya lebih ekstra belajar menghadapi kehidupan setelah lulus. 2015 ialah tahun pertemuan dengan orang-orang baru yang mengajarkan ilmu-ilmu baru & bermanfaat untuk saya & orang sekitar.

Di awal tahun, saya bertemu senior di kampus yang juga memiliki bisnis di bidang textil. Disitu, saya banyak belajar mengenai proses produksi sampai pemasaran.

Pertengahan Tahun mulai beralih ke marketing komunikasi. Lebih spesifik komunikasi politik. Karena pekerjaan pertama saya ialah Staf pada perusahaan konsultan komunikasi, juga saya memegang jabatan sebagai LO untuk proyek pilkada di Bontang.

3 bulan di konsultan akhirnya saya berhenti dan fokus pada rekrutmen di perbankan. Disini, saya banyak bertemu dan belajar hal baru (lagi) lebih-lebih mengenai dunia perbankan, tahap rekrutmen dan psikologi dunia kerja.

Setelah itu, saya menyerah pada ambisi untuk menjadi pegawai Bank. (Mungkin ini juga salah satu jalan dari Tuhan).

Untuk Mengisi waktu selama belum mendapatkan pekerjaan, saya mencoba untuk mengikuti pelatihan administrasi perkantoran di suatu tempat pelatihan yang bekerja sama dengan disnaker Bontang & BLKI samarinda. Sebulan mendapat pelatihan hingga akhirnya tibalah waktu magang. Sebelumnya, Kantor Pos, Telkom & Dinas penerangan sempat menolak saya.

Namun saat itu, saya pasrahkan & kembalikan pada Tuhan. Apapun yang terjadi, Saya berdoa untuk tetap ikhlas menerima kenyataan dan tetap semangat untuk usaha lebih keras.

Hingga akhirnya, Perusahaan penghasil pupuk terbesar di Asia Tenggara menghubungi instansi pelatihan saya, dan akhirnya saya & beserta teman2 lain direkomendasikan untuk mengikuti tes diperusahaan pupuk tersebut.

2 minggu setelah itu saya pun dinyatakan lolos dalam seleksi dan menjalani masa training selama seminggu sebelum akhirnya ditempatkan di unit kerja.




***



Masih serasa mimpi dan penuh syukur tentunya. Aku bisa magang ditempat yang dulu tak bisa kubayangkan. Bisa berada ditempat yang dengan pengamanan ketat dan hanya bisa ku lihat dari kejauhan. Dari balik pagar pembatas yang menjulang tinggi.

Juga disini, Allah menunjukkan, bahwa rencana-Nya memang terbaik. Gagal dalam setiap tes rekrutmen Bank, Ditolak dari kantor pos, Telkom dan dinas penerangan. Tapi Allah berikan yang lebih baik. Yaitu Departemen Keuangan.

Dari rentang pelatihan sampai tulisan ini aku ketik, Alhamdulillah, Tuhan memberikan rezeki dalam bentuk lain yaitu dipertemukan dengan orang-orang baik, berenergi positif dan mau berbagi banyak ilmu baru.
Memang benar, kita dapat mereguk ilmu dari banyak pintu dan semoga ilmu yang didapatkan kelak akan dapat bermanfaat.


For better future
For better Life


Alhamdulillah

#throwback

Senin, 01 Juni 2015

Hallo juni.

Juni Taun lalu banyak cerita. Seminggu pertama ada dirumah *ini libur pertamaku selama kuliah di semester 6, semester paling padat kegiatannya* Lalu minggu kedua ngjalanin UAS, namun dipertengahan UAS malah sakit. Niatnya pulang berobat ke Bontang bentar ajah, tapi situasi berkata lain. Begitu sampai ke bontang langsung dilarikan kerumah sakit karna kondisiku yg sudah sangat lemah. Gak sampai disitu, saat di UGD terlantar smpai subuh karna saat itu dokter jaganya cuman 1 dan ada pasien yg lebih urgent drpd aku. Yah, minggu ketiga di juni taun lalu dihabiskan dirumah sakit. Lalu begitu keluar rumah sakit, tanpa bedrest dulu, di minggu keempat juni langsung ngjalanin pengabdian masyarakat (KKN). Bener2 perjuangan. Tapi tetap bersyukur karna saat itu, teman kos, teman kuliah dan teman KKN sangat mengerti kondisiku saat itu. 

Berubah


Setomboy apapun perempuan, aku yakin dia pasti ingin tampil cantik. Walaupun ia tidak pernah mengatakannya. Itulah pengamatan disekitarku terhadapa teman-temanku.

Ada waktunya kamu yang boyish akan berubah menjadi girly. Itu sudah naluri.

Namun, aku heran, saat usia SMA atau kuliah, wanita2 yang peduli penampilan itu seakan dicibir. Yah, mungkin kasarnya disebut 'centil' atau 'genit'

Aku termasuk pro dengan orang-orang yang menjaga penampilan tersebut. Tidak harus cantik, namun setidaknya merawat diri. Tidak melulu dandan di setiap acara namun tau penempatannya.

Atau mungkin kalian penganut aliran 'inner beauty' atau 'cantik natural' ??? Hey, cantik natural bukan berarti tidak merawat sama sekali Apa yang sudah diberi Tuhan. Dan inner beauty itu hukumnya mutlak. Tidak hanya membuat penampilan luar yang cantik, namun harus diikuti dengan manner dan attitude yang baik.

Bicara attitude, setiap kali aku dekat dengan seseorang, aku selalu berusaha untuk memantaskan diri. Baik dari segi wawasan, penampilan, bahkan kelakuan. Memang jika dilihat dari luar mereka akan berkata 'Be yourself' saja. Namun bagiku, kalo untuk perubahan ke arah yang lebih baik kenapa gak ?? Toh, aku masih merasa nyaman dan tetap merasa menjadi diriku sendiri.

Juga saat memasuki usia 20an, menjaga penampilan sudah mutlak namanya. Sesayang-sayangnya kamu dengan sepatu kets/converse mu, kau harus berpenampilan formal dan profesional. Jika tidak begitu, maka kau akan kesusahan sendiri bahkan malu sendiri.

Untuk itu, para wanita yang merawat diri merupakan sebuah persiapan. Selain itu, kegiatan merawat diri bagi wanita itu merupakan kegiatan yang memiliki efek kesenangan tersendiri. Misal saja, berdandan. Jika saat sedang galau, aku berdandan untuk diriku sendiri. Karna berdandan membuatku merasa lebih baik saat itu. Saat sedang stress, aku dengan mudahnya membuang tabunganku hanya untuk menyumpal kelaparan mata pada aksesories atau baju. Bahkan berlibur ditengah harga tiket yang lumayan tinggi. Jika bukan kita, siapa lagi.

Well, untuk kalian yang mencibir wanita-wanita yang merawat diri, akan ada saatnya kamu berubah, entah dari segi pakaian atau make-up ke arah yang lebih girly. Karna itu naluri ..

Kisah seminggu yang lalu

Berdua lebih baik
Jaman sudah modern. Gak ada orang yang hidup saling berjauhan. Tapi tidak ada juga orang yang hidup saling berdekatan. Sepeti jejaring sosial. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat .

"Kau hanya membutuhkan 1 orang teman, itu sudah cukup, hanya satu, dengan begitu kau tidak akan takut" Han Jung Wo - I miss u

Beberapa waktu terakhir kejenuhanku makin menjadi-jadi. Ada yang aneh dengan diriku. Aku tiba-tiba saja merasa kesepian. Bukan karna aku tidak memiliki teman. Tapi karna tak ada yang mampu memahamiku. Mereka hanya mendengar, tapi tidak memahami. Terlebih ini adalah masa dimana aku berhenti berpetualang dan merasa amat sangat kehilangan pada pemilik labuhan petualanganku. Berpetualang dari satu hati-hati ke hati lain. Namun anehnya, aku berhenti berpetualang pada hati yang tidak pernah kusangka-sangka.
Hingga aku sedikit berubah, menjauh dari pergaulanku, menyendiri. Aku tidak menyalahkan mengapa orang-orang tersebut tidak memahamiku, karna aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui apa yang ku ingini. Karna aku merasa ada yang hilang tanpa tau apa yang sudah ku temukan. Anehnya jika kejenuhan itu mulai menjadi-jadi aku seakan bersedih tanpa tau apa yang harus ku sedihkan.

***

Lain lagi dengan cerita kesepian ku karna aku merindukan rumah & keluargaku. Aku bukan tertutup pada mereka, hanya aku tidak ingin menambah beban mereka. Hari-hari mereka sudah cukup berat untuk mencari uang demi makanan enak, baju bagus, dan ijazah untukku. Aku tidak ingin dengan cerita sedih dan keluhanku yang tidak seberapa itu menambah kerunyaman hidup mereka. Memang No pain no gain. Tapi pain tolerance ku rendah. Aku terbiasa menjadi anak tunggal dan manja selama 14 tahun, dan saat usia 17 tahun.harus belajar hidup mandiri dan sendiri dikota orang. Bergelut dengan sumpeknya ibukota dan menyimpan banyak kesal dalam hati sendiri. Yah sendiri.

Alhasil aku mulai belajar untuk berteman dengan diriku sendiri, membahagiakan diri sendiri dan berusaha nyaman melakukan apa-apa sendiri. Jangan heran jika melihatku berbelanja di mall sendirian, jangan juga heran melihatku membeli dvd drama bajakan lalu menonton drama berjam-jam hingga lupa waktu dan membeli es krim saat cuaca sedang dingin. Aku hanya belajar menerima keadaan, belajar membahagiakan diriku sendiri. If i'm not for my self, who will be ?? Jika sendiri terasa nyaman, berdua pasti akan lebih baik. Karna jarang ada yang betah berlama-lama denganku. Untuk itu, aku amat sangat berterima kasih untuk orang-orang yang mau menemaniku dalam waktu yang lama, aku amat sangat menghargainya.
Hingga akhirnya, tanpa angin tanpa petir, aku kelelahan dan aku menangis didepan orang tuaku, menangis sejadi-jadinya namun tidak ada yang aku ucapkan. Banyak yang ingin aku ceritakan, tapi aku hanya sanggup membuat suara tangisan.
Yah . Beginilah kisah kejenuhanku .