Aku part 3

Sabtu, 16 Maret 2013



How Lucky I am. Beruntungnya aku. Itulah kata pertama kali aku ucapkan dalam hati. Thanks God.
Tuhan menegurku lagi, memberitahukan betapa beruntungnya aku. Kalo di postingan sebelum-sebelumnya Tuhan menegurku melalui wajah anak jalanan dan pengamen di lampu merah, kali ini aku ditegur ditempat yang sebaliknya. Yaitu di Mall. Tempat dimana semua seakan terlihat berkilau, bling-bling, dan sempurna.
Dan hal yang membuat ku berpikir betapa beruntungnya aku amat, sangat, banget simpel.
*cekidot
Setahun melanjutkan study di kota pinggir sungai, setahun pula aku menjadikan mall salah satu tempat untuk hangout, berkumpul dengan teman-teman, bahkan hanya sekedar window shoping. Di tahun kedua ku kuliah, aku sudah benar-benar bosan melihat gaya orang-orang yan tawaf d i mall. Entah kenapa, dari dulu aku memang lebih suka menghabiskan waktu secara outdoor menghirup udara bebas ketimbang masuk mall. Karna bagiku lebih banyak yang bisa dilihat, diamati dan dipelajari ketimbang ketika berada dalam sebuah mall. Orang-orang yang kerjaannya tawaf di mall sudah dapat ku tebak gaya & cara berpakaiannya.
Dengan wedges yang super duper tinggi & tebal *mengalahkan tebalnya duit Aburizal Bakrie.hhe , dipadukan dengan Handbag bermerk *nenekku jah gak akan mungkin bisa nyebut merk tas itu, plus baju yang harganya bisa traktir anak jalanan di restoran mewah. Lantas dengan perhiasan dunia seperti itu, sang wanita itu menaikkan dagunya saat melintasi etalase-etalase toko dalam mall itu.
Disisi lain, ada sekumpulan wanita yang memaksakan diri untuk memakai alas kaki super duper tinggi, cocok atau tidak dengan postur tubuh dan budget, semahal apapun harga alas kaki itu, yang penting tinggi  dan bermerk, wanita-wanita ini rela memaksa dan menyiksa diri mereka sendiri memakai wedges atau heels berjam-jam mengelilingi mall. I respect that.
Lalu ditempat lain, ada sekumpulan wanita yang mengurangi jatah makan mereka agar bentuk tubuh tetap proposional, menyisihkan budget setiap minggu untuk treatment berjam-jam sehingga para lelaki yang menemani dan mengantar wanitanya akan merasakan bahwa menunggu wanita di salon lebih lama ketimbang menunggu downlodan film.
Disini aku tersadar, how lucky i am. Why ?? karna tanpa wedges dan heels aku tetap percaya diri tawaf di mall. Bersyukur, tanpa wedges pun tinggi badan ku sudah menyamai temanku yang memakai wedges/heels. Bersyukur, karna aku tidak harus menyiksa diri memakai wedges agar tetap maksimal dalam berpenampilan. Bersyukur, this is me. Aku tetap merasa cantik dengan Just the way i am. Bersyukur, aku tidak harus menyisihkan/meminta uang lebih kepada orang tua untuk treatment berjam-jam karna aku punya produk dan cara sendiri untuk treatment..
Anyway , Thanks God (^_^)

0 komentar:

Posting Komentar