How Lucky I am. Beruntungnya
aku. Itulah kata pertama kali aku ucapkan dalam hati. Thanks God.
Tuhan menegurku lagi,
memberitahukan betapa beruntungnya aku. Kalo di postingan sebelum-sebelumnya
Tuhan menegurku melalui wajah anak jalanan dan pengamen di lampu merah, kali
ini aku ditegur ditempat yang sebaliknya. Yaitu di Mall. Tempat dimana semua
seakan terlihat berkilau, bling-bling, dan sempurna.
Dan hal yang membuat ku
berpikir betapa beruntungnya aku amat, sangat, banget simpel.
*cekidot
Setahun melanjutkan study di
kota pinggir sungai, setahun pula aku menjadikan mall salah satu tempat untuk
hangout, berkumpul dengan teman-teman, bahkan hanya sekedar window shoping. Di
tahun kedua ku kuliah, aku sudah benar-benar bosan melihat gaya orang-orang yan
tawaf d i mall. Entah kenapa, dari dulu aku memang lebih suka menghabiskan
waktu secara outdoor menghirup udara bebas ketimbang masuk mall. Karna bagiku
lebih banyak yang bisa dilihat, diamati dan dipelajari ketimbang ketika berada
dalam sebuah mall. Orang-orang yang kerjaannya tawaf di mall sudah dapat ku
tebak gaya & cara berpakaiannya.
Dengan wedges yang super
duper tinggi & tebal *mengalahkan tebalnya duit Aburizal Bakrie.hhe ,
dipadukan dengan Handbag bermerk *nenekku jah gak akan mungkin bisa nyebut merk
tas itu, plus baju yang harganya bisa traktir anak jalanan di restoran mewah.
Lantas dengan perhiasan dunia seperti itu, sang wanita itu menaikkan dagunya
saat melintasi etalase-etalase toko dalam mall itu.
Disisi lain, ada sekumpulan
wanita yang memaksakan diri untuk memakai alas kaki super duper tinggi, cocok
atau tidak dengan postur tubuh dan budget, semahal apapun harga alas kaki itu,
yang penting tinggi dan bermerk,
wanita-wanita ini rela memaksa dan menyiksa diri mereka sendiri memakai wedges
atau heels berjam-jam mengelilingi mall. I respect that.
Lalu ditempat lain, ada
sekumpulan wanita yang mengurangi jatah makan mereka agar bentuk tubuh tetap
proposional, menyisihkan budget setiap minggu untuk treatment berjam-jam
sehingga para lelaki yang menemani dan mengantar wanitanya akan merasakan bahwa
menunggu wanita di salon lebih lama ketimbang menunggu downlodan film.
Disini aku tersadar, how
lucky i am. Why ?? karna tanpa wedges dan heels aku tetap percaya diri tawaf di
mall. Bersyukur, tanpa wedges pun tinggi badan ku sudah menyamai temanku yang
memakai wedges/heels. Bersyukur, karna aku tidak harus menyiksa diri memakai
wedges agar tetap maksimal dalam berpenampilan. Bersyukur, this is me. Aku
tetap merasa cantik dengan Just the way i am. Bersyukur, aku tidak harus
menyisihkan/meminta uang lebih kepada orang tua untuk treatment berjam-jam
karna aku punya produk dan cara sendiri untuk treatment..
Anyway ,
Thanks God (^_^)







0 komentar:
Posting Komentar