Anak Perempuan yang Meninggalkan Rumah

Selasa, 12 Mei 2015




Setua apapun anak perempuan, dia masih putri kecil yang tidak tau apa-apa bagi orang tuanya. Terlebih bagi seorang ayah.

Ayah adalah orang yang paling kuat, , ayah tipe orang yang tidak ada lelahnya dan pekerja keras, terlebih saat mencari uang demi ijazah, baju cantik dan makanan enak untuk anak perempuannya. ayah terlihat sok cuek dan kuat, ayah jarang menelpon anak perempuannya yang sedang kuliah di luar kota hanya untuk menanyakan kabar. Tapi justru ayah lah yang menyuruh mama menelpon dan menanyakan kabar anak perempuannya.

Namun, ayah lah yang selalu memberi uang jajan lebih secara sembunyi-sembunyi dari mama pada anak perempuannya. Ayah ialah orang yang paling panic saat anak perempuannya bercerita bahwa ia mengalami luka kecil saat terjatuh dari motor. Ayah yang selalu menelpon sampai 5 kali sehari saat anak perempuannya mengeluh sedang sakit. Ayah yang selalu mengantarkan anak perempuannya di hari pertama ia memasuki jenjang pendidikan baru.

Tapi bukan tidak sering ayah memarahi anak perempuannya, yah, harap di maklumi jika anak perempuannya amat sangat manja.

Anak perempuannya pun sering kesal jika keinginannya tidak dikabulkan.  hingga merajuk beberapa hari dan hanya ayah yang sabar meghadapi sifat anak perempuannya yang seperti itu.  
Namun saat anak perempuannya meminta ijin untuk kuliah di luar kota, ayah lah yang paling berat memberikan ijin. Ayah ragu, bagaimana mungkin anak perempuan satu-satunya itu hidup mandiri dikota orang, ahh, ayah lupa, putri kecilnya kini sudah dewasa. Waktu sangat cepat berjalan.

Ayah ialah orang berat memberikan ijin, begitu pula dengan anak perempuannya, berat hati untuk meninggalkan rumah, terlebih ketempat asing yang baru dia kenal. Inilah jalan hidup yang harus dijalani, anak perempuannya harus meninggalkan rumah demi mengejar cita dan cintanya.  Namun ayah selalu meyakinkan, jika putrinya kelelahan atau terjatuh, rumah selalu terbuka lebar menyambutnya tanpa menuntut berhasil atau tidaknya. Ayah akan menerima kembalinya anak perempuannya ke rumah dengan tangan lebar.

dibelahan bumi manapun, seorang ayah selalu ingin terlihat kuat, sok cool, apalagi ketika anak perempuannya datang kepadanya dengan mengenalkan kekasih hatinya. Pasti rasa cemburu itu ada, dan saat itu juga, seorang ayah mungkin baru tersadar, putri kecilnya kini telah dewasa.
Dan suatu saat nanti, putrinya juga pasti akan meninggalkan rumah, bukan untuk alasan pendidikan, namun karna jalan hidup untuk berpasangan. Ketahuilah, meninggalkan rumah untuk seorang anak perempuan itu amat sangat berat. Lebih berat ketimbang saat meninggalkan rumah dengan alasan pendidikan. Tapi inilah hidup

Dan sebelum masa itu datang, anak perempuan itu kini merasakan rindu. Rindu ingin kembali ke masa kecilnya, dimana ia menangis hanya karna alasan ice cream. Rindu saat berada dirumah, karna tanpa sadar, anak perempuan itu selalu membuat tempat kini ia tinggal semirip mungkin dengan rumah tempat orang tuanya. Anak perempuan itu kini sudah sangat menghargai waktu, terlebih waktu berkumpul dengan keluarga. Anak perempuan itu juga rindu cinta pertamanya, yah, sapa lagi cinta pertama seorang anak perempuan selain ayahnya. Rindu yang amat sangat ditengah buih-buih gombal lelaki yang datang silih berganti.

*Terima kasih mengijinkan anak kecil ini berpetualang dan melihat dunia. Aku disini tidak akan lupa dengan tanggung jawab pendidikanku.


*dan saat tulisan ini di upload, anak perempuan itu sudah menyelesaikan tanggung jawab pendidikannya, namun ia masih haus pertemanan, petualangan dan pertemuan orang-orang hebat. Memang sudah masanya ia untuk pulang kembali ke rumah. Awalnya anak perempuan itu sangat excited mengetahui ia akan kembali ke zona amannya, namun ternyata ia juga merindukan kehidupan dan hari-hari yang berat dulu saat masih menempuh studi. Namun anak perempuan it uterus berusaha meyakinkan diri, bahwa memang sudah waktunya. Melakukan yang terbaik sebelum masa ia harus mengikuti cintanya tiba. Meninggalkan rumah untuk jalan hidup berpasangan.

0 komentar:

Posting Komentar