Hidden Beach

Selasa, 12 Mei 2015



 

Pada Pantai Rahasia.

Setidaknya sekali seumur hidup, kamu harus merasakan jatuh cinta di kota ini, terlebih pada senjanya. Senja di kota minyak. Sedari kecil senja di kota ini selalu sukses membuatku jatuh hati. Cantik namun sebentar, memukau, namun begitu lekas hilang. Seperti kamu. 

 

Di kota ini,aku mengenang bagaimana kita bisa bertemu, menelusuri tempat-tempat yang mungkin pernah kau datangi, dan menerka-nerka bagaimana rasanya menjadi kamu. Lama tidak mendengar kabarmu, bagaiamana kah kamu sekarang, apakah kamu sedang berbahagia ? semoga kamu selalu dijagaNya dengan baik. Dan kamu, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, karena untuk sementara aku tidak akan ada di sekitarmu.

 

“Tidak ada korelasi positif antara durasi sebuah pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan ingatan yang tersisa ketika pertemuan itu berakhir” dikutip dari Novel Surat untuk Ruth.

 

Yah, kutipan itu setidaknya mewakili unek-unekku saat ini. Did you know when you go it’s the perfect ending, to the bad day I just beginning, when you go all I know is you’re my favorite mistake. Aku pernah ada di masa ketika yang hilang itu membuat ku kelabakan dan berurai kata meracau, hingga tidak dapat mengendalikan diriku sendiri.

 

Aku tidak akan membenci atau mendendam atas apa yang sudah terjadi. Pikirku, memang inilah yang harus terjadi.  Justru aku berterima kasih. Terima kasih karna waktu itu sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat ku yang tidak seberapa itu, dan mungkin membuatmu berguman “apaan sih, lebay, norak” . tapi tidak apa, itu hak mu. Terima kasih karna dulu sempat membuatku merasa dicari, terima kasih untuk tetap ada dan tidak seketika memutuskan komunikasi, dan terima kasih sudah membuatku yang naïf ini bisa berani berjalan sejauh ini. Aku amat sangat berterima kasih , karna kini, jika melihat kebelakang, aku sudah berjalan ke arah yang lebih baik.

 

Aku menulis ini bukan karna ingin menjadi penulis, setidaknya ini membantuku melepas kenangan dan pikiran masa lalu yang dulu pernah ku genggam dengan erat dan membebani pikiran hingga membuatku kelelahan dan sakit.

 

Kini aku tidak akan menyangkalnya lagi, malah akan berusaha lebih menerima. Namun maaf jika sewaktu-waktu aku masih mencarimu, masih mengharapkanmu, tidak bisa menghilangkan perasaan ku begitu saja, mohon maaf. Kau tau ini hati, aku pun tidak dapat mengendalikannya.

 

Be down to earth yaa, mimpimu mungkin setinggi langit, tapi kakimu masih harus berpijak di bumi. Kejar mimpi dan cita-citamu. Jika kau tersandung dan jatuh, jangan merasa sendiri, aku siap membantu dan menopangmu. Dan nanti mungkin bukan aku yang ada di sampingmu atau baris terdepan melihat kesuksesanmu, namun ketahuilah standing applause terkeras itu adalah dari aku.

 

*dalam rinai hujan*

Balikpapan, 28 April 2015 – 09.30 pm



0 komentar:

Posting Komentar