skip to main |
skip to sidebar
Pada Pantai Rahasia.
Setidaknya sekali seumur hidup, kamu harus merasakan
jatuh cinta di kota ini, terlebih pada senjanya. Senja di kota minyak. Sedari
kecil senja di kota ini selalu sukses membuatku jatuh hati. Cantik namun
sebentar, memukau, namun begitu lekas hilang. Seperti kamu.
Di kota ini,aku mengenang bagaimana kita bisa bertemu,
menelusuri tempat-tempat yang mungkin pernah kau datangi, dan menerka-nerka
bagaimana rasanya menjadi kamu. Lama tidak mendengar kabarmu, bagaiamana kah
kamu sekarang, apakah kamu sedang berbahagia ? semoga kamu selalu dijagaNya
dengan baik. Dan kamu, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, karena untuk
sementara aku tidak akan ada di sekitarmu.
“Tidak ada korelasi positif antara durasi sebuah
pertemuan dengan mudah-tidaknya melupakan atau meninggalkan kenangan dan
ingatan yang tersisa ketika pertemuan itu berakhir” dikutip dari Novel Surat
untuk Ruth.
Yah, kutipan itu setidaknya mewakili unek-unekku
saat ini. Did you know when you go it’s the perfect ending, to the bad day I just
beginning, when you go all I know is you’re my favorite mistake. Aku pernah ada
di masa ketika yang hilang itu membuat ku kelabakan dan berurai kata meracau,
hingga tidak dapat mengendalikan diriku sendiri.
Aku tidak akan membenci atau mendendam atas apa yang
sudah terjadi. Pikirku, memang inilah yang harus terjadi. Justru aku berterima kasih. Terima kasih
karna waktu itu sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat ku yang tidak
seberapa itu, dan mungkin membuatmu berguman “apaan sih, lebay, norak” . tapi
tidak apa, itu hak mu. Terima kasih karna dulu sempat membuatku merasa dicari,
terima kasih untuk tetap ada dan tidak seketika memutuskan komunikasi, dan
terima kasih sudah membuatku yang naïf ini bisa berani berjalan sejauh ini. Aku
amat sangat berterima kasih , karna kini, jika melihat kebelakang, aku sudah
berjalan ke arah yang lebih baik.
Aku menulis ini bukan karna ingin menjadi penulis,
setidaknya ini membantuku melepas kenangan dan pikiran masa lalu yang dulu
pernah ku genggam dengan erat dan membebani pikiran hingga membuatku kelelahan
dan sakit.
Kini aku tidak akan menyangkalnya lagi, malah akan
berusaha lebih menerima. Namun maaf jika sewaktu-waktu aku masih mencarimu,
masih mengharapkanmu, tidak bisa menghilangkan perasaan ku begitu saja, mohon maaf.
Kau tau ini hati, aku pun tidak dapat mengendalikannya.
Be down to earth yaa, mimpimu mungkin setinggi
langit, tapi kakimu masih harus berpijak di bumi. Kejar mimpi dan cita-citamu. Jika
kau tersandung dan jatuh, jangan merasa sendiri, aku siap membantu dan
menopangmu. Dan nanti mungkin bukan aku yang ada di sampingmu atau baris
terdepan melihat kesuksesanmu, namun ketahuilah standing applause terkeras itu
adalah dari aku.
*dalam rinai hujan*
Balikpapan, 28 April 2015 – 09.30 pm
0 komentar:
Posting Komentar